Langsung ke konten utama

Postingan

Huuuuuaaaaaaaaaaaaaaa.... Sudah lama sekali jemari ini tidak menari di lembaran kosong ini. maafkan diriku ini, terlalu hina dina sehingga melupakanmu begitu lamanya. Banyak sekali yang terlewat oleh mu, banyak sekali kenangan yang tidak tersampaikan dengan baik kepada dirimu ini, terlalu banyak jejak-jejak kaki ini melangkah selama liburan semester kemarin, terlalu banyak kisah yang ku lupa sampaikan kepadamu, kisah senang, sedih, haru, semangat, dan sebagainya. Semuanya seperti meluap menyatu begitu saja dengan udara segar disekelilingku, sehingga aku sulit untuk menghirup atau bahkan menangkapnya kembali untuk kemudian aku ceritakan kepadamu, duhai kertas putih. Maafkan aku lagi-lagi harus ingkar janji padamu, untuk mengisimu di waktu luangku. Aku lagi-lagi tidak menyadari bahwa kamu sudah sangat jarang bercengkrama bersamaku, disetiap perasaan diriku. Maafkan. Berharap selalu, dirimu tetap setia dengan diriku untuk terus berlayar bersamaku, mengarungi kehidupan ini samp...

Kembali Meluruskan Niat

Tibalah pada suatu titik dimana aku termenung sendiri dalam kondisi yang aku sendiri tidak mengerti maksudnya apa yang diinginkan diri? Tetapi mencoba menerka apa yang dirasa oleh jiwa, apa yang sebenarnya terjadi dalam langkah ini sehingga memang harus berhenti sejenak untuk kembali memperbaiki kualitas niat dalam diri ini. Dan benarlah semakin tercenung dengan kalimat penggugah jiwa yang sangat merasuk hingga jauh ke dalam makna. “Ini bukan tentang bagaimana pandangan makhluk Allah terhadap diri kita, tapi pandangan Allah, Dzat yang sangat kita harapkan cinta dan ridha-Nya atas kita. Karena sangat sempit dan sebentarnya dunia, janganlah kita mengorbankan akhirat yang telah nyata luas dan abadinya. Dan sudahkah selama ini kerja-kerja kita hanya untuk-Nya? sudahkah selama ini hidupmu, nafasmu, dan seluruh pengorbananmu meraih segalanya hanya untuk-Nya? sudahkah kamu memastikan dalam setiap langkahmu itu diawali untuk Allah, disaat untuk Allah dan diakhirpun senantiasa untuk Allah?”...

Apakah Sampai Padamu Berita Tentang Mahanazi?

gambar diambil dari sini Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina? Apakah sampai padamu berita tentang  rumah-rumah yang dihancurkan tanah-tanah meratap berpindah tuan, bahkan manusia yg dibuldozer? Apakah sampai padamu berita tentang air mata yang tumpah dan menjelma minuman seharihari tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari? Apakah sampai padamu berita tentang kanak-kanak yang tak lagi berbapak tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara? Para balita yang menggenggam batu dengan dua tangan mungil mereka menghadang tentara zionis Israel lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha di halamannya menggenang darah dan tubuhtubuh yang terbongkar Peluru yang berhamburan di udara menyanyikan lagu kematian menyayat nadi kekejaman yang melebihi fiksi dan semua film yang pernah kau tonton di bioskop ...

Kata Terurai Jadi Laku

Ukuran interigasi cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata, terurai dalam laku,   kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata. Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal. Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan. (Anis Matta dalam serial cintanya “Kata Terurai Jadi Laku”)