Langsung ke konten utama

Kembali Meluruskan Niat


Tibalah pada suatu titik dimana aku termenung sendiri dalam kondisi yang aku sendiri tidak mengerti maksudnya apa yang diinginkan diri? Tetapi mencoba menerka apa yang dirasa oleh jiwa, apa yang sebenarnya terjadi dalam langkah ini sehingga memang harus berhenti sejenak untuk kembali memperbaiki kualitas niat dalam diri ini. Dan benarlah semakin tercenung dengan kalimat penggugah jiwa yang sangat merasuk hingga jauh ke dalam makna. “Ini bukan tentang bagaimana pandangan makhluk Allah terhadap diri kita, tapi pandangan Allah, Dzat yang sangat kita harapkan cinta dan ridha-Nya atas kita. Karena sangat sempit dan sebentarnya dunia, janganlah kita mengorbankan akhirat yang telah nyata luas dan abadinya. Dan sudahkah selama ini kerja-kerja kita hanya untuk-Nya? sudahkah selama ini hidupmu, nafasmu, dan seluruh pengorbananmu meraih segalanya hanya untuk-Nya? sudahkah kamu memastikan dalam setiap langkahmu itu diawali untuk Allah, disaat untuk Allah dan diakhirpun senantiasa untuk Allah?”

Ya, terkadang memang kita harus berhenti sejenak untuk melihat, mengingat dan muhasabah diri kembali selama dalam perjalanan ini sudahkah niat-niat kita lurus senantiasa hanya untuk-Nya? Selalu berusaha di awal Allah, di saat Allah dan senantiasa hanya untuk Allah hingga akhir.

Meminjam secuplik tulisan Ust.Salim A.Fillah tentang niat yang benar dalam melakukan sesuatu…

“Benar dalam niat. Benar dalam semburat hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menepis syak dan riya’. Benar dalam menghapus sum’ah dan ‘ujub. Benar dalam menatap lurus ke depan, tanpa peduli pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran kepada Allah. Benar dalam persangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.”

Karena niat adalah awal dari segala sesuatu bermuara. Jagalah Ia tetap suci dari awal, tengah hingga akhir. Agar semua tidak sia-sia

Allah, luruskan niat kami selalu hanya untuk-Mu dan karna-Mu. Jika berbelok di tengah, maka kembali luruskan niatku, jika sudah kembali lurus ditengah dan berbelok kembali diakhir maka luruskan kembali niatku kepada-Mu, untuk-Mu dan karna-Mu, Duhai Robb-ku. Allahumma Aamiin ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TOLERANSI

Kemarin, tanggal 25 Desember selalu menjadi hari-hari munculnya perdebatan tentang bagaimana sikap kita pada non-muslim. Teringat ketika saya berada di tanah rantau, dimana di sana penduduk muslimnya adalah minoritas, yaitu sekitar 1% saja. Agak kaget, karna harus beradaptasi sedemikian kuat untuk bisa melewati hari demi hari hingga selesai masa tugas. Tim saya pun terdiri dari lima orang dan salah satunya adalah non-muslim. Kami hidup dalam satu atap selama kurang lebih 2 tahun. Adaptasinya dimulai dari teman satu tim ini tentang bagaimana bertoleransi. Walau sebenarnya, sejak SMA saya sudah memiliki teman yang cukup akrab dan berhubungan baik dengan non-muslim. Tapi, karna dalam tugas ini saya berada hampir 24 jam bersama jadi lebih banyak belajarnya untuk bertoleransi. Kami memberitahukan tentang peraturan-peraturan dalam ajaran agama islam mengenai makanan-makanan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan, lalu tentang kami tidak boleh mengucapkan selamat setiap hari perayaan ...

Belajar dari Kisah Para Terdahulu

gambar diambil dari sini “Perjuangan kita saat ini, belumlah seberapa dibanding dengan perjuangan orang-orang terdahulu dalam jalan panjang ini. Berjuang itu memang pahit, karna Surga-Nya itu Manis, maka bertahanlah ! ” Kalimat di atas bisa saya katakan sebagai hentakan untuk saya ketika letih menyapa dalam mengarungi kehidupan ini. ya, saya selalu mencoba menyakinkan diri, mencoba melawan diri ini dengan kalimat diatas. Seakan ditampar dan kembali bangkit dikala jatuh ataupun lelah untuk melanjutkan kehidupan yang hanya sementara ini. Merasa sering kali lupa bahwa ia selalu sendiri, padahal Allah selalu menemaninya dalam setiap langkahnya, bahkan para malaikat-Nya pun turut serta menemaninya. Kita sering kali lupa akan perjuangan orang-orang terdahulu bahkan perjuangan Rasulullah SAW dalam dakwahnya. Merasa bahwa masalah yang ada dihadapan kita saat ini sangat berat, padahal masalah, tantangan dan dakwah mereka para terdahulu? Ya, tentu jauh lebih berat dari kita ...

Termasuk yang Manakah Kita?

Siapakah orang yang sibuk?   Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekaan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s Siapakah orang yang manis senyumannya? Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang-orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Innalillahi wainna ilaihi rajiuun.” Lalu sambil berkata, “ Ya Rabb, Aku ridha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman Siapakah orang yang kaya? Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini Siapakah orang yang miskin? Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.   Siapakah orang yang rugi? Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melalukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Siapakah orang yang paling cantik Orang yang paling cant...