Langsung ke konten utama

Postingan

Sepi, Sendiri, Bahagia Diriku

Dalam ramainya kehidupan aku selalu mencoba menghindar untuk terus mencari kesepian. Aku tak suka dengan keramaian. Entah aku benar-benar tak suka dengan suara banyak orang. Biar banyak yang berkata bahwa kesendirian itu membosankan, biarkan aku berkata lain tentang kesendirian. Jika aku berada dalam keramaian, itu bukan benar-benar diriku. Yang hadir disana hanya ragaku, bukan jiwaku. Jiwaku melayang entah hinggap dimana. Sepi. Sendiri. Bahagia Diriku. Dalam keramaian hingar-bingarnya kehidupan dunia, aku memilih mengasingkan diri. Biar disana banyak orang berebut bahagia dengan caranya mencemplungkan diri dalam keramaian, aku lebih baik menyepi, sendiri. Sebab itu bahagia diriku. Dalam sepi aku dapat merasakan tentang apa-apa saja yang aku rasa, kemudian menulis dalam lebar kosong dalam laptop ataupun diari. Dalam sendiri aku merasakan kebebasan ketika ada banyak orang yang selalu berebut kasih sayang yang belum tentu itu terbaik baginya dan lantas berakhir begitu saja diten...

Pit Stop

gambar diambil dari sini Berhenti sejenak untuk segala aktivitas memang sebuah keharusan (sepertinya). Berhenti ketika dipertengahan jalan mulai muncul keraguan, kelelahan, dan seribu tanya tentang apa yang ingin dicapainya untuk (apa) dan (siapa)? Berhenti untuk memperbaiki kualitas niat yang mungkin saja sudah berbelok sedikit dari langkah diawalnya. Berhenti untuk memastikan kembali kualitas niat benar diawal, disaat hingga diakhir. Jangan sampai niat yang sudah baik diawal dan diakhir menjadi rusak tak karuan sebab hasil yang didapatkannya. Berhenti sejenak untuk mengatur helaan nafas agar kembali tertatur dan tidak tergopoh-gopoh saat melanjutkan langkah mencapai tujuan. Terkadang kita perlu kondisi sendiri untuk menikmati keberhentian sejenak itu. Berniat untuk mencari kesepian dalam perjalanan namun malah dihadapkan dengan keramaian. Tetapi, tetap mencoba menikmati perjalanan yang ramai dengan banyaknya ambisi dari kepala-kepala manusia. Menikmati kereta yang (se...

Tentang Menulis

Langit malam yang sudah mulai berganti warna seakan memberi sinyal pada relung jiwaku, memaksaku untuk bisa merangkai kata demi kata kembali yang pada akhirnya kan menjadi kalimat hingga paragraf yang terususun rapi. Aku mencobanya, tapi ah masih sama saja. Datar- tak ada rasa yang sanggup diungkap oleh pikiranku yang kan disampaikan oleh jemariku. Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku mengetik kembali pada lembaran kosong ini, tapi sama saja. aku menghapusnya kembali tulisan yang sudah tersusun rapi, entah apa maksudnya. Aku juga tak mengerti. Ah, mungkin saja karna aku sedang kehabisan kata dalam menulis sehingga aku tak mudah menulis lagi seperti sebelum-sebelumnya. Pikirku seperti itu. Tapi, aku rasa memang itu salah satu yang menjadi alasannya. Aku kehabisan kata-kata, seperti miskin kata, jadi semua tak bermakna apa yang aku tuliskan itu. Tulisan ku tidak bertambah-tambah pada blog ini. hanya yang itu-itu saja. sampai-sampai teman terdekatpun menanyakan te...
Huuuuuaaaaaaaaaaaaaaa.... Sudah lama sekali jemari ini tidak menari di lembaran kosong ini. maafkan diriku ini, terlalu hina dina sehingga melupakanmu begitu lamanya. Banyak sekali yang terlewat oleh mu, banyak sekali kenangan yang tidak tersampaikan dengan baik kepada dirimu ini, terlalu banyak jejak-jejak kaki ini melangkah selama liburan semester kemarin, terlalu banyak kisah yang ku lupa sampaikan kepadamu, kisah senang, sedih, haru, semangat, dan sebagainya. Semuanya seperti meluap menyatu begitu saja dengan udara segar disekelilingku, sehingga aku sulit untuk menghirup atau bahkan menangkapnya kembali untuk kemudian aku ceritakan kepadamu, duhai kertas putih. Maafkan aku lagi-lagi harus ingkar janji padamu, untuk mengisimu di waktu luangku. Aku lagi-lagi tidak menyadari bahwa kamu sudah sangat jarang bercengkrama bersamaku, disetiap perasaan diriku. Maafkan. Berharap selalu, dirimu tetap setia dengan diriku untuk terus berlayar bersamaku, mengarungi kehidupan ini samp...