Langsung ke konten utama

Tentang Menulis






Langit malam yang sudah mulai berganti warna seakan memberi sinyal pada relung jiwaku, memaksaku untuk bisa merangkai kata demi kata kembali yang pada akhirnya kan menjadi kalimat hingga paragraf yang terususun rapi. Aku mencobanya, tapi ah masih sama saja. Datar- tak ada rasa yang sanggup diungkap oleh pikiranku yang kan disampaikan oleh jemariku.

Sebenarnya sudah beberapa hari ini aku mengetik kembali pada lembaran kosong ini, tapi sama saja. aku menghapusnya kembali tulisan yang sudah tersusun rapi, entah apa maksudnya. Aku juga tak mengerti. Ah, mungkin saja karna aku sedang kehabisan kata dalam menulis sehingga aku tak mudah menulis lagi seperti sebelum-sebelumnya. Pikirku seperti itu.

Tapi, aku rasa memang itu salah satu yang menjadi alasannya. Aku kehabisan kata-kata, seperti miskin kata, jadi semua tak bermakna apa yang aku tuliskan itu. Tulisan ku tidak bertambah-tambah pada blog ini. hanya yang itu-itu saja. sampai-sampai teman terdekatpun menanyakan tentang blog ku, aku menjawab ; entahlah !

Atau mungkin karna kesibukan ku pada laporan praktek lapangan yang tak kunjung usai, sehingga aku malas untuk menulis kembali pada laman ini. bisa saja, jawabnya. Tapi aku juga mengira bahwa ketidakproduktif-an ku dalam menulis beberapa bulan terakhir ini, karna kuantitas serta kualitas bacaan bukuku yang mulai terkikis oleh praktek lapangan yang sedikit menyita pikiran hingga waktu. Sehingga membuatku kosong tak kaya akan kata. Karna jarangnya buku yang dibaca. Atau bahkan ini yang paling aku takutkan seperti yang Ka Scientia Afifah sampaikan “kekurangpekaan kita terhadap sekitar kita” yang bisa jadi menjadi alasan kita kembali kurang produktif dalam menulis.

Benar. Bukankah menulis adalah tentang hati. Tentang apa-apa yang kira rasa yang timbul akibat sekitar kita. tentang kepekaan terhadap segala sesuatunya yang bisa menjadi bahan kita menulis (sebenarnya).

“menulis itu merekam sejarah dan jejak perjalanan, menulis itu mengkristalkan hikmah” begitulah yang dikatakan oleh Pak Cahyadi Takariawan.

Begitulah kiranya. Menulis sebenarnya bukan masalah punya waktu atau tidak. Punya laptop atau tidak. Punya banyak buku atau tidak. Bukan pula tentang tempat yang asyik atau tidak. Tapi menulis adalah tentang rasa yang diungkap oleh jemari. Apapun rasa yang muncul seketika waktu, agar tidak terlupa tentang apa-apa yang dirasa dan dilihat bersegera menulisnya. Karna kalau hanya dalam ingatan saja, siapa yang kan menjamin besok masih ingat atau sudah lupa? Maka benar saja apa yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.

Dan akupun juga sepakat dengan yang dikatakan Karen Baikie “di antara manfaat menulis adalah menyehatkan fisik dan kejiwaan, dan dapat membuat penulis merasa lebih baik.

Pada akhirnya aku mengalah payah pada hati dan membenarkan hatiku yang mencoba ikut bicara pada malam ini “kesibukanmu bukan kendala terbesarmu untuk menulis, tapi kesediaan hatilah yang harus terus dipaksa olehmu untuk menulis. Dengan menulis segala kepenatan akan memudar dengan sendirinya” :)

Dan kini aku merasa lebih baik dari sebelum menulis, ya semoga saja benar adanya ! :)

gambar diambil dari sini : http://sudutbangun.blogspot.com/2013/09/kertas-dan-pena.html

Komentar

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TOLERANSI

Kemarin, tanggal 25 Desember selalu menjadi hari-hari munculnya perdebatan tentang bagaimana sikap kita pada non-muslim. Teringat ketika saya berada di tanah rantau, dimana di sana penduduk muslimnya adalah minoritas, yaitu sekitar 1% saja. Agak kaget, karna harus beradaptasi sedemikian kuat untuk bisa melewati hari demi hari hingga selesai masa tugas. Tim saya pun terdiri dari lima orang dan salah satunya adalah non-muslim. Kami hidup dalam satu atap selama kurang lebih 2 tahun. Adaptasinya dimulai dari teman satu tim ini tentang bagaimana bertoleransi. Walau sebenarnya, sejak SMA saya sudah memiliki teman yang cukup akrab dan berhubungan baik dengan non-muslim. Tapi, karna dalam tugas ini saya berada hampir 24 jam bersama jadi lebih banyak belajarnya untuk bertoleransi. Kami memberitahukan tentang peraturan-peraturan dalam ajaran agama islam mengenai makanan-makanan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan, lalu tentang kami tidak boleh mengucapkan selamat setiap hari perayaan ...

Belajar dari Kisah Para Terdahulu

gambar diambil dari sini “Perjuangan kita saat ini, belumlah seberapa dibanding dengan perjuangan orang-orang terdahulu dalam jalan panjang ini. Berjuang itu memang pahit, karna Surga-Nya itu Manis, maka bertahanlah ! ” Kalimat di atas bisa saya katakan sebagai hentakan untuk saya ketika letih menyapa dalam mengarungi kehidupan ini. ya, saya selalu mencoba menyakinkan diri, mencoba melawan diri ini dengan kalimat diatas. Seakan ditampar dan kembali bangkit dikala jatuh ataupun lelah untuk melanjutkan kehidupan yang hanya sementara ini. Merasa sering kali lupa bahwa ia selalu sendiri, padahal Allah selalu menemaninya dalam setiap langkahnya, bahkan para malaikat-Nya pun turut serta menemaninya. Kita sering kali lupa akan perjuangan orang-orang terdahulu bahkan perjuangan Rasulullah SAW dalam dakwahnya. Merasa bahwa masalah yang ada dihadapan kita saat ini sangat berat, padahal masalah, tantangan dan dakwah mereka para terdahulu? Ya, tentu jauh lebih berat dari kita ...

Termasuk yang Manakah Kita?

Siapakah orang yang sibuk?   Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekaan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s Siapakah orang yang manis senyumannya? Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang-orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Innalillahi wainna ilaihi rajiuun.” Lalu sambil berkata, “ Ya Rabb, Aku ridha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman Siapakah orang yang kaya? Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini Siapakah orang yang miskin? Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.   Siapakah orang yang rugi? Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melalukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Siapakah orang yang paling cantik Orang yang paling cant...