Langsung ke konten utama

Beginilah Jalan Dakwah Mengajari Kami



Dakwah bukannya tidak melelahkan
Bukannya tidak membosankan
Dakwah bukannya tidak menyakitkan
Bahkan juga para pejuang risalah
Bukannya sepi dari godaan kefuturan
Tidak… Justru kelelahan.
Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya.
Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.
Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani…
Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke manapun mereka pergi…

Akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu
bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah.
Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman.
Lalu terus berkobar dalam dada.
Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka.
Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu
menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris.
Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..
Karena itu kamu tahu. Pejuang  yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar.

Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunju,  Sungguh Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang… ”

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak.
 Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta. Mengajak kita untuk terus berlari… 
 
“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu. Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu. Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu. Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.” 

# (Oleh : Alm K.H Ust. Rahmat Abdullah)


Ya, beginilah jalan dakwah mengajarkan kami. mengajarkan tentang arti keikhlasan dan kesabaran tentunya. Dan ku meyakini bahwa Allah sepenuhnya selalu bersama kami yang sedang berjuang ini. Tidak mudah memang, tapi kami akan terus mencoba untuk selalu menyeru, mengajak kepada-Mu Robb. Indahnya jalan ini karena ditaburi oleh banyaknya rintangan dan onak yang menerjang kami dijalan ini. kami sadar bahwa surga-Mu sangatlah mahal dan tidak sembarang orang bisa memasukinya maka harus ditempuh dengan perjuangan terbaik untuk menggapai nya.Jagalah keistiqomahan kami ini Duhai Robb Semesta Alam, kuatkan kami dijalan ini, lapangkan dada kami dengan karunia iman agar kami bisa merasakan indahnya beribadah dan bertawakkal pada-Mu.Rapatkanlah barisan kami agar tidak bercerai-berai, karena sesungguhnya berjama’ah itu akan lebih indah daripada berjalan dikesendirian menyeru kepada-Mu. Kuatkan ikatan kami, serta tunjuki jalan-jalannya terangi dengan cahaya-Mu, Yaa Robbi bimbinglah kami. Aamiin ^^
Keep Istiqomah dan tetap kobarkan api semangat yang membara didalam hati !!! :)

wallahu'alam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...

Kisah Klasik Kesehatan Lingkungan

“Kelopak bunga airmata pun terus menetes, dengan indahnya sejumlah   dengan kenangan yang ada” (JKT 48 – Sakura No Hanabiratachi) Kemarin, puncak dari tetes airmata ini mengalir. Acara perpisahan yang kita sebut “VALUE” itu menjadi kisah klasik kita. Tak ingin menangis, namun apadaya. Aku memang hanyalah seorang manusia pada biasanya yang ketika dihadapkan dengan suatu perpisahan selalu muncul keharuan luar biasa. Disini, kita pernah bertemu. Di kampus tercinta, di sudut gedung tua berwarna ungu itu. Masuk sebagai mahasiswa baru tahun 2012. Mungkin banyak dari kita yang awalnya tak menyangka melanjutkan tingkatan belajarnya di kampus itu. Yang awalnya mimpi masuk di kampus idaman, tapi entah mengapa masuk ke dalam lingkaran ungu itu. Lingkaran yang sekarang dipenuhi oleh cinta di dalamnya. Mungkin ini memang salah satu takdir terindah dari-Nya, menyelipkan diri kita di kampus itu untuk merajut asa menggapai cita untuk kebaikan dimasa depannya, untuk merenda kenangan m...

Rihlah ke Masjid Kubah Mas :)

Bismillah, semoga lancar menulis hingga cerita *edisi rihlah ke Masjid Kubah Mas* nya selesai hehe :D Jadi halaqoh saya pekan lalu itu rihlah ke Masjid Kubah Mas, Depok-Jawa Barat. Rihlah ini di inisiasikan oleh Ka Vera (kalo ndak salah) dan jadi kesepakatan teman-teman yang juga hadir saat halaqoh sepekan sebelumnya. Oke, singkat cerita kami janjian untuk pergi ke sana hari ahad jam 8 pagi di pasar rebo. Dan seperti biasa, yang sampai pertama duluan adalah kakak tercinta kami, Ka Mawaddah. Lalu disusul dengan Nadia, Saya dan setelah beberapa lama menunggu barulah tiba ka Widi dan Ka Peni. Umi dan Ka Vera ndak bisa ikutan liqo karena ada uzur syar’i Insya Allah. dan Ka Putri juga ndak bisa ikutan karna sedang nanjak ke Gunung Pangrangau. Huuueeenaknya -_- Setelah ngumpul semua, berangkatlah kami dengan menaiki angkot 19 jurusan kp.rambutan-terminal Depok. Dan sampai diterminal Depok, kami lanjut dengan angkot 03 biru, kalo ndak salah jurusan parung bingung deh. Eh ...