Langsung ke konten utama

Ketika Jalanan Berhikmah ...


Assalamu’alaikum WrWb...
 
Huuuahh lama sekali tidak bersua ya hehe... apa kabar ukhti akhi? Semoga tetap dalam keadaan yang penuh syukur kepada Ilahi Robbi, Dzat Yang Maha Baik. Aamiin :)

Entah mengapa hari ini aku ingin berbagi tentang peristiwa-peristiwa yang sering kali ku lihat disekitar jalanan Ibukota ini. Hmm, Pengantar syukur ku bisa dikatakan melalui fenomena-fenomena disekitarku. Maksudnya? Ya, maksudnya itu adalah peristiwa demi peristiwa yang dihadapkan padaku membuatku selalu bersyukur pada-Nya, Dzat Yang Maha Baik. Ibarat katanya nih ya Allah menyentil diriku dikala aku mengeluh dalam menjalani hidup ini hehe... *nasib orang yang suka mengeluh dapat sentilan dari Allah :D

Teringat aku berangkat kuliah ditemani dengan sahabat baru ku kini yaitu metromini. Ya, aku kuliah tiap pagi diantar dengan metromini 76 jurusan Kp.Rambutan-Blok M. Menaiki 76 di pagi hari itu memerlukan tenaga yang super duper ekstra karena harus berebut untuk bisa ke angkut didalamnya agar tidak terlambat sampai tempat tujuan yaitu kampus ku yang baru karna metromini 76 ini pagi hari sangatlah penuh dan lama datangnya. Setalah berhasil diangkut aku langsung berucap syukur karena aku tidak lagi harus menunggu metromini yang datangnya cukup lama ini. Huft... (Setiap hari seperti ini, dan tiga tahun harus 
seperti ini, gumamku dalam hati).


Eitss, tak berapa lama kemudian, aku langsung tersadar bahwa yang namanya perjuangan ya memang harus rela berkorban untuk melakukan segalanya demi mencapai keberhasilan yang diinginkan. Kalo diingat-ingat perjuangan setiap pagi ku ini tidaklah seberapa dibanding dengan orang-orang besar yang sudah sukses seperti Pak Dahlan Iskan yang dahulunya adalah anak kecil yang bercita-cita ingin mempunyai sepatu dan kini beliau menjadi Menteri BUMN yang sudah bisa membagi bagikan sepatu kepada pelajar-pelajar Indonesia yang kurang beruntung seperti dirinya dahulu yang sulit untuk membeli sepasang sepatu. Dan tak seperti Kakek Jamil Azzaini yang dahulunya adalah anak dari seorang petani jagung dan sekarang sudah menjadi trainer sekaligus inspirator hebat.

Ya mereka bisa dikatakan dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu, tetapi mereka saat ini sudah menjadi orang besar yang dikenal oleh banyak orang karna karya-karya besar dan kebermanfaatannya dilingkungan masyarakat. Mereka memang berasal dari keluarga tidak mampu, tetapi itu tidak menjadi alasan untuk mereka menyerah dan mengeluh pada keadaannya dahulu.
 Semangat itulah yang harusnya aku tiru, tetapi aku malah sebaliknya. Mengeluh dan mengeluh pada setiap keadaan. Bukan nya bersyukur, malah mengeluh. Dasar manusia, jarang sekali bersyukur pada setiap pemberian dari Sang Kholiqnya.

Tengak-tengok keluar jendela dan melihat keadaan didalam metromini terkadang airmata ku tanpa disuruhpun menetes. Entah karna kelilipan atau karna sedih dengan keadaan diriku yang tak pernah bersyukur ini. Tapi dalam hati kecilku seperti berkata “Tuh, lihat kondisi saudara-saudaramu yang kurang beruntung itu. Harusnya kamu tuh selalu bersyukur karna dilahirkan dengan kondisi fisik yang sempurna, dengan kebutuhan yang mudah sekali didapatkan. Mereka dilahirkan dalam kondisi seperti itu aja masih bersemangat untuk mencari rezeki, tak pernah mengeluh dan tak pernah malu dengan keadaannya yang seperti itu, sangat jauh dari dirimu yang baru melakukan perjuangan dipagi hari yang masih belum seberapa dibanding mereka yang tidak bisa merasakan duduk di kursi sekolahan dan kuliahan”.

Disana, diluar metromini banyak sekali anak-anak bocah yang mengamen untuk mengais rezeki demi mempertahankan hidupnya di Ibukota ini, banyak orang-orang yang memiliki kondisi fisik yang kurang sempurna, namun tetap bersemangat dalam mencari rezeki yang halal untuk keluarganya. Banyak anak-anak yang tidak bersekolah, banyak remaja-remaja yang berada dijalan untuk menjadi tukang parkir, banyak pedagang asongan yang selalu sabar untuk mencari rezekinya dengan menaiki metromini ataupun bus yang lewat depan matanya untuk menawarkan dagangannya kepada penumpang-penumpang yang berada didalam metromini atau bus yang dinaikinya dan berharap ada banyak penumpang yang membeli dagangannya.

Masih banyak sekali peristiwa yang dihadapkan padaku agar aku harus tetap bersyukur pada-Nya disetiap keadaan. Jadi ingat salah satu ayat dari surat cinta-Nya “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” #Jleb
Padahal Allah menegur kita dengan kalimat indah nan lembut dan berulang-ulang pada QS. Ar-Rahman (coba dibuka ya Al-Qur’annya), agar kita selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya kepada kita.

Yap, ini adalah sebuah catatan pengingat diri dalam perjalalanan ku didalam metromini yang penuh makna dan hikmah ini. Yuuuukkk, mulai sekarang saling mengingatkan untuk selalu bersyukur akan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, dan cobalah peka terhadap lingkungan sekitar kita dalam perjalanan kita untuk mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat mahal yang berupa hikmah dan pengingat untuk diri sendiri serta orang lain.

“Orang yang paling berbahagia adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain.” (Ibnu Mas’ud, ra)

Adakah kalimat selain “Alhamdulillah” untuk mengucap syukur kepada-Nya?

Semoga manfaat dan Semangat berburu Hikmah yang bertebaran dijalanan.
Selamat merajut kebaikan untuk sesama sebagai tanda syukur kita pada-Nya.
Keep Thankful and Keep Fighting :D


Afwan kalo terlalu lebay dan tidak terkontrol dalam kalimat yang tertuang dari lisan diriku didalam tulisan ini, tolong dimaafkan yaa ukh/akh :)
 
Wallahu’alam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...

Kisah Klasik Kesehatan Lingkungan

“Kelopak bunga airmata pun terus menetes, dengan indahnya sejumlah   dengan kenangan yang ada” (JKT 48 – Sakura No Hanabiratachi) Kemarin, puncak dari tetes airmata ini mengalir. Acara perpisahan yang kita sebut “VALUE” itu menjadi kisah klasik kita. Tak ingin menangis, namun apadaya. Aku memang hanyalah seorang manusia pada biasanya yang ketika dihadapkan dengan suatu perpisahan selalu muncul keharuan luar biasa. Disini, kita pernah bertemu. Di kampus tercinta, di sudut gedung tua berwarna ungu itu. Masuk sebagai mahasiswa baru tahun 2012. Mungkin banyak dari kita yang awalnya tak menyangka melanjutkan tingkatan belajarnya di kampus itu. Yang awalnya mimpi masuk di kampus idaman, tapi entah mengapa masuk ke dalam lingkaran ungu itu. Lingkaran yang sekarang dipenuhi oleh cinta di dalamnya. Mungkin ini memang salah satu takdir terindah dari-Nya, menyelipkan diri kita di kampus itu untuk merajut asa menggapai cita untuk kebaikan dimasa depannya, untuk merenda kenangan m...

Rihlah ke Masjid Kubah Mas :)

Bismillah, semoga lancar menulis hingga cerita *edisi rihlah ke Masjid Kubah Mas* nya selesai hehe :D Jadi halaqoh saya pekan lalu itu rihlah ke Masjid Kubah Mas, Depok-Jawa Barat. Rihlah ini di inisiasikan oleh Ka Vera (kalo ndak salah) dan jadi kesepakatan teman-teman yang juga hadir saat halaqoh sepekan sebelumnya. Oke, singkat cerita kami janjian untuk pergi ke sana hari ahad jam 8 pagi di pasar rebo. Dan seperti biasa, yang sampai pertama duluan adalah kakak tercinta kami, Ka Mawaddah. Lalu disusul dengan Nadia, Saya dan setelah beberapa lama menunggu barulah tiba ka Widi dan Ka Peni. Umi dan Ka Vera ndak bisa ikutan liqo karena ada uzur syar’i Insya Allah. dan Ka Putri juga ndak bisa ikutan karna sedang nanjak ke Gunung Pangrangau. Huuueeenaknya -_- Setelah ngumpul semua, berangkatlah kami dengan menaiki angkot 19 jurusan kp.rambutan-terminal Depok. Dan sampai diterminal Depok, kami lanjut dengan angkot 03 biru, kalo ndak salah jurusan parung bingung deh. Eh ...