Pergilah
gulita, hadirlah cahaya...
Mungkin kalimat dalam lirik lagu brother-untukmu
teman ini dapat menggambarkan perasaanku saat ini. entah mengapa aku juga
tak mengerti sebenarnya, hambar tak ada rasa
-____- *lupakan
Jika kalian
memiliki komunitas ataupun sebuah perkumpulan ataupun organisasi yang sudah
membuatmu nyaman, dan dapat membuatmu terbang seperti kupu-kupu dengan karya
besarmu yang memberi warna sekelilingmu maka jagalah mereka dengan baik.
Jika kalian
memiliki saudara-saudari seiman yang selalu ada dan selalu mengingatkanmu akan
Sang Maha Pencipta dan segala hal kebaikan, maka jagalah ia dengan
sebaik-baiknya, sayangi ia, titipkan ia pada Allah, ikatlah hatimu dengannya
dengan ikatan cinta pada Allah.
Hari ini aku dihadapkan dengan dua “mereka”
yang berbeda dalam hidupku. Siang tadi aku berjumpa dengan “mereka” yang
pertama, saudara-saudari seimanku saat berorganisasi di masa SMA lalu, lebih
tepatnya dengan teman-teman IKRAR (Ikatan Rohis SMA/sederajat seJakarta Timur),
yang selalu saja membuat rindu dikala jauh, selalu tersenyum dan bersyukur dikala
bertemu. Bersyukur karena Allah telah mempertemukanku dengan “mereka”
saudara-saudari seiman yang mempunyai tujuan yang sama yaitu Allah. dan sorenya
aku juga bertemu dengan “mereka” teman-teman seperjuangan saat di masa sekolah
menengah pertama dulu. “mereka” yang ini adalah yang berbeda dengan “mereka”
yang pertama tadi aku ceritakan peranannya dalam hidupku, karena mungkin
aku dengan “mereka” teman seperjuangan di masa putih-biru tidak memiliki tujuan
yang sama.
Ada rasa syukur yang terselip dalam
hatiku kini. Ya, karena di samping aku mempunyai saudara-saudari seiman yang
begitu keren dengan peranannya dalam diri pribadi masing-masing, ternyata aku masih
mempunyai teman-teman yang membuatku harus terus belajar, harus terus
mengingatkan, harus terus mendoakan untuk segala kebaikan, harus terus kuat
menahan tangis kesedihan ketika melihat “mereka” yang berbeda denganku. Ya,
“mereka” yang pernah hadir dalam rentetan perjalanan hidupku saat di jenjang
sekolah menengah pertama. “mereka” yang mengajariku tentang arti bertahan akan
prinsip yang telah ku pegang, “mereka” ialah teman-temanku yang dulu, kemarin,
dan hari ini masih saja sama dengan yang pernah ku lihat saat di masa
putih-biru itu. tidak ada yang berubah. Ohya lupa, ada yang berubah maksudnya.
Berubah ke arah yang sangat signifikan bahayanya bagi kehidupannya kelak,
Astaghfirullah, Faghfiirlanaa, Yaa Robb :(
Sore tadi aku kembali menatap wajah
“mereka” satu persatu. Sama. Masih seperti dulu. Masih saja asik dalam dunianya
“mereka”. Dalam hati ini sebenarnya melirih kesakitan tak kuasa untuk menahan
sakit hati yang terlalu dalam karena aku diperlihatkan dengan kelakulan dan
perbuatan “mereka” yang sangat mudah melebur satu sama lainnya, diperlihatkan
bagaimana ada kesan bahwa “mereka” telah bangga menjadi diri “mereka” saat ini
dengan rokok, dan lain-lainnya. Ada tangis tersendiri saat melihat kondisi
“mereka” tadi, tak kuasa melihat “mereka” jika harus seperti itu terus. Ku
beranikan diri untuk memberi sedikit celotehan hati agar ada yang “mereka”
ingat saat acara tadi. “Hidup itu harus punya tujuan. Harus punya mimpi.
Jangan hidup sekadar hidup saja, semenan-mena dengan hanya lontang-lantung, nongkrong-nongkrong,
merokok dan ...”
“Iya, bener tuh
Wid. Kita harus punya mimpi besar.” Celetuk
salah seorang teman yang berada di depanku berdiri. Ada rasa terharu sebenarnya
ketika ada respon kalimat tadi, karena aku merasa diperhatikan saat berbicara
:D. Entah yang lain mendengarkan atau tidak, dan aku rasa tidak. karena beberapa
yang hadir tadi hanya sibuk dengan hal lainnya masing-masing.
Seperti menampar diri sendiri
sepanjang perjalanan pulangku setelah bertemu “mereka” yang kedua. Memikirkan
sebenarnya apa yang telah terjadi selama ini dengan teman-temanku yang pernah hadir
dalam perjalanan hidupku? Mengapa “mereka” bisa terdampar dan tenggelam dalam
lautan kehidupan yang fana’ ini? Mengapa? Pertanyaan yang sampai rumah selalu
menghantui pikiranku. Dan ini menandakan bahwa perananku saat ini masih
dipertanyakan dalam barisan kebaikan yang menyeru kepada kebaikan sudah sejauh
mana diri ini berpijak dan membawa pengaruh akan kebaikan? *Faghfiirlii, Ya
Allah :((((
Senang, bahagia, bersyukur tak
henti-hentinya kepada Allah dan selalu tersenyum saat bertemu dengan
saudara-saudari seiman. Karena “mereka” yang pertama telah hadir dalam hidupku,
mengisi ruang yang kosong dalam rongga hatiku. Selalu mengingatkanku akan
Allah, kebaikan dan lainnya yang bermanfaat bagi sesama serta kehidupan itulah
yang menjadi kebersyukuranku kepada Allah karena masih ada saudara-saudari yang
menemaniku :D. Tapi rasa sedih selalu hadir ketika bertemu dengan “mereka”
teman putih-biruku. Selalu merasa sendirian ketika sedang berkumpul dengan
“mereka” yang acuh tak acuh terhadap perintah Robbnya. Selalu ku ingat wajah “mereka” yang pertama, saudara-saudari
seiman yang menentramkan hati dikala gundah akan nasib peradaban teman-teman
seperjuanganku dahulu di masa SMP.
Ahiya aku sampai lupa kalau Allah
pernah mengatakan “Dan Yang mempersatukan hati
mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan)
yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan
tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.” (QS.Al-Anfal : 63) *Salah satu ayat kesukaan :) :)
Menyadari sepenuh hati
bahwa tugasku sebagai seorang prajurit yang masih belajar berjuang di jalan-Nya
ini hanyalah sampai pada menyeru, mengajak, mengingatkan, menegur serta
mendoakan. Selebihnya adalah hak prerogatif Allah. ya, HIDAYAH adalah Hak
Prerogatif Allah semata. Tapi bukan menjadi alasan juga untuk tidak
menyeru kepada kebaikan. Indeed.
Ingat itu ya Wida,
tugasmu hanya sampai pada tawakkal dan ikhtiar. Selebihnya adalah kepunyaan
Allah :)
Bersyukur kepada Allah karena aku
dilahirkan sebagai Muslim. Dan aku mengenal Islam dari sejak kecil, serta
dibesarkan oleh orangtuaku di lingkungan yang Islam pula. Betapa banyak nikmat
yang telah Allah berikan kepadaku, terlebih nikmat akan diberikannya
saudara-saudari seiman adalah nikmat dan anugerah yang tiada duanya. ‘Ala Kulli
Hal Alhamdulillah :)
Jagalah “mereka” semua
yang telah hadir dalam rentetan perjalanan hidupku Yaa Allah. tetapkan Islam
dalam hati kami, dan tunjukilah selalu jalan-jalan kami menuju cahaya Islam
yang sebenar-benarnya. Jadikan Engkau, sebagai satu-satunya Dzat yang kami tuju
dan kami sembah Yaa Robb.
Sesungguhnya
Engkau Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Teguhkanlah,
Ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cinta kasihnya. Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hatinya dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah padam.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan kelimpahan
iman kepada-Mu dan indahnya bertawakkal kepada-Mu. Hidupkanlah hati ini dengan
ma’rifat kepada-Mu.
Matikanlah
ia dalam syahid di jalan-Mu. Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik
Penolong :)
#Jakarta,
21 Juli 2013
Komentar
Posting Komentar