Langsung ke konten utama

Refleksi Iman di Usia Sembilan Belas Tahun



Tulisan ka Ys.Gunawan mungkin bisa dibilang tepat untuk mengutarakan perasaan yang ada pada diri saya ketika baru saja memasuki usia sembilan belas tahun, memasuki tahun yang belum pernah saya lalui sebelumnya ini. Tulisan yang bisa menjadi refleksi jiwa terlebih iman ini.

“Hidup itu, kalau kata pemancing ikan salmon, seperti menapakkan kaki di atas aliran sungai yang deras untuk menunggu kailmu ditarik oleh salmon yang kau nantikan. Jika kau salah menempatkan kakimu, jika pijakannya kurang kokoh di sana, niscaya kau akan terpeleset dan terseret oleh arus deras yang tak dapat kau lawan. Kemudian alirannya membawamu ke arus yang lebih deras dan dalam. 

Begitulah. Kita harus punya falsafah hidup yang jelas. Harus segera diputuskan, mau seperti apakah kita memandang dan menjalani hidup ini. Kemudian ia akan menjadi keyakinan yang mendarah daging, mengotak hati, men-tulang otot. Sehingga langkah semakin tegap. Arahnya semakin jelas. Pijakan dan sandarannya semakin kuat. 

“Kalau Hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau Kerja sekadar kerja, kera juga bekerja”, kata Buya Hamka. Hidup harus punya visi besar, mimpi besar. Yang mimpinya tak jauh dari sekadar apa yang masuk ke dalam perutnya, nilainya tak lebih dari sekadar apa yang keluar dari perutnya pula. Buang kacamata kuda, jangan hidup dalam hidup orang lain. Live your life! Imagine your own dream and visualize it in your mind. 

“ketika kau ingin menikmati kehidupan ini seperti yang kau bayangkan, mati demi mempertahankan kehidupan ini pada saat terancam, jauh lebih baik daripada ketika kau hidup dan berhasil meraih keuntungan besar dalam bisnismu, namun kau kehilangan kebahagiaan jiwa.” —Marghouri Keinan Rolinjes

Bacalah! Bacalah! Bacalah! Belajarlah dari orang-orang besar. Rasulmu, sahabat-sahabatnya, merekalah raksasa peradaban. Kemudian barulah orang besar lainnya. Pahami kehidupan ini sebagaimana mereka memahami kehidupan. Jalani kehidupan ini sebagaimana mereka menjalaninya. Memang tak mungkin ikuti jejak mereka sepenuhnya, tapi apa yang tidak bisa kita ambil semuanya, jangan sampai kita tinggalkan semuanya. 

Jalan hidup mereka memang berbeda. Tapi bila kita cari persamaannya, barangkali mimpi yang besar, kesungguhan, kedisiplinan, semangat yang menggelora, hal tersebut menjadi kesamaan di antara mereka. Dan, perlu disadari bahwa tidak ada jalan pintas dan jalan mudah untuk jadi pribadi yang tangguh, disiplin. Maka bersabarlah. Sabar yang defensive, juga offensive! 

Tinggalkanlah kebiasan buruk, sesulit apapun itu. Karena ketidakmampuan meninggalkannya adalah bukti kelemahan Iman. Buatlah kebiasaan baik baru. Rencanakan, lalu langsung lakukan. Jangan ditunda-tunda. Sedikit-sedikit saja, tetapi konsisten & kontinu. Sehingga kau sulit menghentikannya sebagaimana perokok kesulitan menghentikan kebiasaan merokoknya. 

Menjadi bermanfaatlah. Lakukan hal baik. Sekecil apapun. Sesederhana apapun itu. Meskipun sekadar membeli dagangan kakek tua yang berkeliling menjual makanan yang sebetulnya kau sendiri tidak menyukainya. Karena kita tidak akan pernah tau kebaikan yang mana yang akan mengantarkan kita ke surga-Nya. Bisa jadi tangan-tangan orang yang kita tolonglah yang akan menyelamatkan kita dari nereka-Nya, kemudian menarik kita masuk ke surga-Nya. 

Ini bukan permainan lari estafet. Tahun ke tahun bukan siklus yang bisa saja untuk dilewati. Bukan yang gitu-gitu aja, muter di situ-situ saja. Kita lagi mendaki. Setiap hari harus naik ke posisi yang lebih tinggi. Jangan berhenti meski sejenak, karena ayam tetangga yang melamun saja besoknya lagsung mati. Kalau mentok, Iman yang main. Ayo cari jalan lain sebisa mungkin. Usaha semaksimal mungkin. Insya Allah akan ada kemudahan dari arah yang tidak disangka. Sebagaimana Musa a.s. ketika dikejar Fir’aun.”

Membaca tulisan ini berkali-kali membuat saya berpikir lebih dalam tentang arti mimpi dan hidup. Selama sembilan belas tahun lamanya masih sangat jauh dari ketertinggalan yang ada.
Mencoba membuka memori ingatan saya sembilan belas tahun yang lalu. Ah, sama sekali tidak ingat apa-apa yang terjadi kala itu. tapi mungkin sembilan belas tahun lalu saya sedang menangis meminta airsusu dari Ibu, mungkin masih kagum dengan kuasa-Nya yang telah memberikan kehidupan pada saya yang kala itu baru saja keluar dari rahim Ibu, mungkin masih dengan tatapan kosong melihat sekelilingnya  yang masih belum dikenali satu orang pun kecuali hanya Ibu, wanita yang teramat istimewa itu yang telah berjuang, yang telah merelakan tubuhnya sakit hanya untuk melahirkan diri saya ini, yang dari ceritanyalah saya mengetahui bahwa dari ke empat anaknya yang dilahirkan dari rahimnya hanya saya yang paling sulit dalam proses persalinan.

Berlanjut pada memori ingatan masa-masa saat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Adakah kebaikan yang sudah saya lakukan untuk sesama teman seperjuangan, untuk agama ini, untuk orangtua, ataupun untuk negeri ini? terlalu berlebihan memang jika parameternya melakukan kebaikan untuk negeri ini, dan saya mencoba menguranginya beberapa tingkat yaitu untuk diri saya sendiri, adakah kebaikan dan manfaat yang sudah saya lakukan pada masa-masa itu? saya rasa belum ada dan jika pun ada mungkin itu juga berkat bantuan dari sekeliling saya yang selalu membantu saya dalam berpijak di bumi ini.

Dan hingga saat ini menginjak tahun kedua kuliah D3, saya merasa masih belum banyak berbuat apa-apa untuk diri ini. terlebih untuk agama serta negeri ini. masih kecil saya ini. masih belum bisa melihat dunia yang sebenarnya sangat luas untuk bebas berkarya yang menghasilkan kebaikan dan manfaat.

Refleksi iman ketika usia sudah sampai di angka sembilan belas tahun. Mungkin masih banyak kemalasan, keegoisan, ketergantungan terhadap manusia yang berlebihan, ataupun kekurangan-kekurangan lainnya yang dimiliki oleh diri ini. Mencoba kembali membuka memori ingatan sembilan belas tahun lalu, saat bayi perempuan lahir tanpa dosa, bersih dan suci dan kini hidup hampir setengah dewasa penuh dengan kesalahan-kesalahan yang ada. Sekarang, sudah saatnya beranjak bangun dari iman yang turun, menuju Iman yang harus terus bertambah-tambah, sudah saatnya mengejar bahkan harus lompat mengejar mimpi yang sudah tertinggal jauh disana. Memperbaiki diri selalu, memanfaatkan segala waktu yang ada dengan kebaikan, mempersiapkan bekal kebaikan selalu untuk kehidupan abadi nanti, mempersiapkan dan memantaskan diri untuk mendapatkan yang terbaik kelak, dan selalu mencintai-Nya meski masih tertatih dan tak sempurna dalam mencintai-Nya. Tapi sungguh, dalam dada selalu berharap bahwa DIA yang selalu bertahta, selalu merasuk di relung hati yang paling terdalam dalam diri ini.


TE-RI-MA-KA-SIH  untuk kalian yang sudah bersedia menemani diri saya menapaki kehidupan ini bersama-sama, menjalin cinta karna-Nya, bersuka dan berduka cita bersama, selalu menegur kesalahan yang ada, selalu mengingatkan akan syurga-Nya. Jazakumullah Ahsanal Jaza’ .Semoga kita semua tetap dalam lindungan kasih sayang-Nya selalu, selalu, dan selalu.
Aamiin Allahumma Aamiin :)

Jangan lelah menapaki perjalanan ini, karna sungguh perjalanan kita masih panjang. Berbahagialah :))



-Maher Zain-Thanks to Allah

Reff :
Allah, I wanna thank You
I wanna thank you for all the things that you've done
You've done for me through all my years I've been lost
You've guided me from all the ways that were wrong
Indeed you gave me hope


‘Ala Kulli Hal Alhamdulillah :)

#4 Oktober 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Surat Cinta dari Ukhti ku

Bismillah ...  Assalamu’alaykum Ukhti Wida ... “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”  (QS. Al-Hujarat : 10) Iya, kita adalah saudara. Saudara yang diikatkan iman kepada Allah, ukhti ... “Persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan dengan Allah persatukan hati-hati berserakan saling bersaudara, saling merendah lagi memahami, saling mencintai, dan saling berlembut hati” (Sayyid Quthb) Sungguh indah sekali ukhuwah itu  Sejak pertama aku bertemu kamu di acara salam hingga menjadi satu halaqoh, menjadi hal yang sangat luar biasa ... Sungguh, atas segala izin-Nya kita dapat mempertahankan ukhuwah ini ... Ukhti, jazakillah khair katsiran atas segala pemberianmu kepadaku, perhatian dan semuanya. Ukhti, afwan jiddan ya jika aku banyak salah. Semoga jilbab ini menemani hari-hari mu, untuk terus berjua...

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...
Kontemplasi awal tahun 2023 ku ada beberapa yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran dan benak hati, tentang : Menyamakan frekuensi itu perlu, agar tak keliru dalam perjalanan panjang. Sebab nantinya ia yang kau pilih kan menjadi sahabat dalam perjalanan ibadah terpanjang dalam kehidupanmu yang ending dan muaranya adalah reuni di Jannah-Nya. Tentang Berkomitmen pada Yang Abadi, sebab sumber kekuatan dan kebahagiaan berasal dari-Nya. Karna seringkali diri ini masih berharap pada manusia yg sudah diketahui tempatnya khilaf tapi masih saja menaruh harap yang akhirnya berujung kecewa. Tentang takdir-Nya yang tak memerlukan alasan sebab, karna jika Allah telah berkehendak sudah pasti terjadi.  Lalu, apakah engkau masih ragu wahai diri tentang segalanya yang telah diatur sedemikian rapi dan indah oleh-Nya? Bukankah mengimani Takdir adalah salah satu dari Rukun Iman kita? Lantas apalagi yang engkau ragukan dalam kehidupan ini? Padahal setiap daun yang gugurpun jatuh atas seizin-Nya, buk...