Langsung ke konten utama

Menaklukan Rasa Takut


Sudah kesekian kalinya saya mencoba ingin menaklukan “Rasa Takut” yang ada dalam diri saya yang sering kali menghantui diri dimanapun dan kapanpun. Entah tentang kuliah ataupun tentang organisasi atau bahkan tentang mewujudkan mimpi-mimpi yang telah saya tuliskan dalam sebuah buku harian dan tentang menetapkan pilihan-pilihan dalam hidup untuk terus melangkah lebih maju. Dan “Rasa Takut” yang akan saya ceritakan adalah tentang pergulatan hati yang terkadang manja sehingga timbul “Rasa Takut” saat ingin melangkah. Jika ditanya tentang “Rasa Takut” pada Allah gimana? “Rasa Takut” pada Sang Maha Kuasa, itu sudah barang tentu menjadi pilihan utama dalam diri yang disertai dengan “Harap dan Cinta” Kepada-Nya, itu jawab saya.

Mencoba memahami apa yang diinginkan hati ketika “Rasa Takut” itu datang disaat yang tidak tepat. Datang tanpa diundang dan perginya pun tanpa diusir terlebih dahulu. Ia datang dengan tetiba, tanpa permisi terlebih dahulu. Itulah yang menjadi musuh dan tambatan hati saya, ialah “Rasa Takut”.

Ada sebuah pengingat yang sangat menarik dari Bunda Tatty Elmir ketika menceritakan tentang Rasa Takut kepada seorang anak perempuannya.

Di dunia ini tidak ada manusia yang tidak mengenal rasa takut. Karena rasa takut, sebagaimana juga cinta, rindu, benci, rasa sebal, kesal, senang, malu, bahagia dan sebagainya adalah anugerahNYA yang tak bisa dipinta maupun dielakkan.

RASA TAKUT, sesungguhnya adalah sinyal alami dan mekanisme sederhana dari Yang Maha Kuasa, untuk menyelamatkan kita dari mara bahaya.
RASA TAKUT juga penting untuk membangun kewaspadaan bagi sebentuk keselamatan diri. Jadi rasa takut adalah sesuatu yang wajar. (Dan itu tentu tidak berlaku untuk mereka yang merasakannya di luar batas kewajaran/takaran orang kebanyakan. Nah untuk yang di luar ini, tentu kita akan berurusan dengan psikolog dan juga psikiater, karena memang dalam ilmu jiwa, ada KETAKUTAN dan KECEMASAN yang perlu kajian dan penanganan khusus, semacam apa yang disebut Anxiety Disorders, trauma, phobia dan sebagainya).

Dan ada beberapa cara pula untuk menaklukan “RASA TAKUT” dari beliau :
  1. CARI TAHU segala sesuatu yang berkaitan yang objek yang kita takutkan itu. Karena sering sekali ketakutan muncul karena kita tidak tahu persis dengan apa yang terjadi. Misalnya ketika malam hari kita mendengar suara atau bunyi-bunyian yang tidak biasa, yang kita sangka maling, maka cara tahu sumbernya, siapa tahu ternyata hanya suara kucing :)
  2. HADAPI. Kita harus berani menghadapi kenyataan. Kita harus ‘ngadepin’ hukuman yang akan diberikan oleh seseorang jika kita sudah berbuat salah. Itu namanya sebentuk tanggung jawab. 
  3.  LAWAN. Takut itu ditundukkan.
  4. JADIKAN KAWAN. Kalau kita takut air, maka jadikan air sebagai kawan. Belajar dan berlatihlah  berenang bahkan jika perlu menyelam  hingga mahir. Sehingga tak ada lagi ketakutan menghadapi air, bahkan sebaliknya, kita jadi tahu bahwa ternyata dunia bawah air itu begitu memukau dan layak ditakjupi.
  5. BERSIAP. Dalam banyak peristiwa, kita kerap gagap, groggy dan stress menghadapi sesuatu karena tidak  merasa ‘siap’. Karena itu kepercayaan diri dan kesiapan diri, sangat berkait erat dengan kecakapan hidup yang kita miliki.
  6. IKHLAS, BERSERAH DIRI/ TAWAKAL. Nah ini sesuatu yang sangat mudah diucapkan dan dikhotbahkan. Namun sangat sulit dipraktekkan.
Ketakutan yang tertinggi di setiap makhluk yang bernyawa adalah KEMATIAN. Padahal  kita tahu kematian sebagai puncak ketakutan ini adalah sesuatu yang nyata,  jalan hidup,  dan rute wajib  yang  pasti akan dilalui.

Karena itu untuk nyaman dan rileks menghadapinya, adalah dengan bersiap dan meyakini seyakin-yakinnya, bahwa hanya dengan MAUT kita bisa bertemu dengan kekasih hati yang sangat mengasihi kita dan kita rindukan. DIA YANG MAHA MEMILIKI SEGALA.

-          - Sebab menaklukan “Rasa Takut” adalah dengan menghadapi “Rasa Takut” itu sendiri (sebenarnya). #NTMS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TOLERANSI

Kemarin, tanggal 25 Desember selalu menjadi hari-hari munculnya perdebatan tentang bagaimana sikap kita pada non-muslim. Teringat ketika saya berada di tanah rantau, dimana di sana penduduk muslimnya adalah minoritas, yaitu sekitar 1% saja. Agak kaget, karna harus beradaptasi sedemikian kuat untuk bisa melewati hari demi hari hingga selesai masa tugas. Tim saya pun terdiri dari lima orang dan salah satunya adalah non-muslim. Kami hidup dalam satu atap selama kurang lebih 2 tahun. Adaptasinya dimulai dari teman satu tim ini tentang bagaimana bertoleransi. Walau sebenarnya, sejak SMA saya sudah memiliki teman yang cukup akrab dan berhubungan baik dengan non-muslim. Tapi, karna dalam tugas ini saya berada hampir 24 jam bersama jadi lebih banyak belajarnya untuk bertoleransi. Kami memberitahukan tentang peraturan-peraturan dalam ajaran agama islam mengenai makanan-makanan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan, lalu tentang kami tidak boleh mengucapkan selamat setiap hari perayaan ...

Belajar dari Kisah Para Terdahulu

gambar diambil dari sini “Perjuangan kita saat ini, belumlah seberapa dibanding dengan perjuangan orang-orang terdahulu dalam jalan panjang ini. Berjuang itu memang pahit, karna Surga-Nya itu Manis, maka bertahanlah ! ” Kalimat di atas bisa saya katakan sebagai hentakan untuk saya ketika letih menyapa dalam mengarungi kehidupan ini. ya, saya selalu mencoba menyakinkan diri, mencoba melawan diri ini dengan kalimat diatas. Seakan ditampar dan kembali bangkit dikala jatuh ataupun lelah untuk melanjutkan kehidupan yang hanya sementara ini. Merasa sering kali lupa bahwa ia selalu sendiri, padahal Allah selalu menemaninya dalam setiap langkahnya, bahkan para malaikat-Nya pun turut serta menemaninya. Kita sering kali lupa akan perjuangan orang-orang terdahulu bahkan perjuangan Rasulullah SAW dalam dakwahnya. Merasa bahwa masalah yang ada dihadapan kita saat ini sangat berat, padahal masalah, tantangan dan dakwah mereka para terdahulu? Ya, tentu jauh lebih berat dari kita ...

Termasuk yang Manakah Kita?

Siapakah orang yang sibuk?   Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekaan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s Siapakah orang yang manis senyumannya? Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang-orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Innalillahi wainna ilaihi rajiuun.” Lalu sambil berkata, “ Ya Rabb, Aku ridha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman Siapakah orang yang kaya? Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini Siapakah orang yang miskin? Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.   Siapakah orang yang rugi? Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melalukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Siapakah orang yang paling cantik Orang yang paling cant...