Langsung ke konten utama

Belajar dari Ibu (Lagi)




Jika kamu dihadapkan dengan dua pilihan “Pasar atau Supermarket”? pastilah diantara kita banyak yang memilih supermarket. Tetapi tidak dengan Ibu saya. Ibu saya pasti akan lebih memilih pasar. Jawabannya sederhana ketika ditanya tentang ini. “tentang kemanusian dan tentang berbagi”.

Soal masakan di rumah, Ibu selalu mengajarkan “jika sudah menikah nanti, biasakan untuk memasak lebih. Untuk kamu bagikan ke tetanggamu, walau hanya berbagi kuahnya saja.”

Jika ada tamu yang datang ke rumah, Ibu selalu mengajarkan tentang “memperlakukan tamu dengan baik, walau hanya dengan menyediakan air putih. Maka, jangan heran kalau berkunjung ke rumah saya Ibu saya suka repot membuatkan makanan untuk tamu. :D

Soal pekerjaan di rumah, Ibu selalu mengajarkan “Kalo sudah selesai pekerjaan satu, selesaikan pekerjaan yang lainnya. Jangan di tunda-tunda.”
Soal Ibadah di rumah, Ibu selalu mengajarkan “Kalo sudah mendengar adzan, langsung sholat. Malam bangun buat sholat sunnah, pagi juga buat sholat dhuha, dan apa-apa jika segalanya di dekat sama Allah pasti segalanya akan mudah.”

Pernah suatu ketika sebelum berangkat kuliah, saya berpamitan dan seperti biasa saya mencium telapak tangannya yang lembut itu dan berkata “Ibu, jangan lupa doakan anakmu ini biar sukses dunia dan akhirat ya?” dan Ibu saya pun menjawab “tidak ada seorang Ibu yang tidak pernah mendoakan anaknya, pasti semua orangtua selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.”

Jadi, Bohong sekali menurut saya jika ada seorang anak yang mengakui orangtuanya tidak pernah mendoakan dirinya. Dan bohong sekali jika ada seorang anak yang mengaku tidak pernah mendapatkan pelajaran hidup dari orangtuanya, terlebih pelajaran kehidupan dari Ibundanya yang telah mengandungnya dalam keadaan susah payah, dan melahirkannya dalam keadaan antara hidup atau mati dengan keadaan mulia.

Saya sepakat dengan Bapak di pagi hari ini yang mengatakan bahwa “Tidak ada hari Ibu karna kasih sayangnya ada di setiap saat, dihari biasa aja kasih sayangnya sudah ada.” :)

Apapun itu, tetap Ibu adalah Ibu. Seorang makhluk ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa, yang setiap harinya mencoba terus belajar untuk menjadi seorang wanita yang terbaik bagi suami dan anak-anaknya. Kalau kata Ibu saat ngumpul bersama Bapak “Ajari dan Bimbing Ibu biar bisa menjadi seperti Istri Para Rasulullah, seperti Khadijah dan Aisyah.” Aih, so sweet nya :D

SELAMAT HARI IBU.

Bahagia dan Syukurku pada Allah karena telah menitipkan diriku dari rahim seorang wanita yang sangaaaat kuat dan keren ini. Aku bahagia menjadi anakmu :) 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Surat Cinta dari Ukhti ku

Bismillah ...  Assalamu’alaykum Ukhti Wida ... “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”  (QS. Al-Hujarat : 10) Iya, kita adalah saudara. Saudara yang diikatkan iman kepada Allah, ukhti ... “Persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan dengan Allah persatukan hati-hati berserakan saling bersaudara, saling merendah lagi memahami, saling mencintai, dan saling berlembut hati” (Sayyid Quthb) Sungguh indah sekali ukhuwah itu  Sejak pertama aku bertemu kamu di acara salam hingga menjadi satu halaqoh, menjadi hal yang sangat luar biasa ... Sungguh, atas segala izin-Nya kita dapat mempertahankan ukhuwah ini ... Ukhti, jazakillah khair katsiran atas segala pemberianmu kepadaku, perhatian dan semuanya. Ukhti, afwan jiddan ya jika aku banyak salah. Semoga jilbab ini menemani hari-hari mu, untuk terus berjua...

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...
Kontemplasi awal tahun 2023 ku ada beberapa yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran dan benak hati, tentang : Menyamakan frekuensi itu perlu, agar tak keliru dalam perjalanan panjang. Sebab nantinya ia yang kau pilih kan menjadi sahabat dalam perjalanan ibadah terpanjang dalam kehidupanmu yang ending dan muaranya adalah reuni di Jannah-Nya. Tentang Berkomitmen pada Yang Abadi, sebab sumber kekuatan dan kebahagiaan berasal dari-Nya. Karna seringkali diri ini masih berharap pada manusia yg sudah diketahui tempatnya khilaf tapi masih saja menaruh harap yang akhirnya berujung kecewa. Tentang takdir-Nya yang tak memerlukan alasan sebab, karna jika Allah telah berkehendak sudah pasti terjadi.  Lalu, apakah engkau masih ragu wahai diri tentang segalanya yang telah diatur sedemikian rapi dan indah oleh-Nya? Bukankah mengimani Takdir adalah salah satu dari Rukun Iman kita? Lantas apalagi yang engkau ragukan dalam kehidupan ini? Padahal setiap daun yang gugurpun jatuh atas seizin-Nya, buk...