Langsung ke konten utama

Gerakan Cinta Almamater? Penting kah?



“pengumuman, teman-teman hari ini jam 4 sore jangan pada pulang dulu karena akan ada sosialisasi mengenai “Gerakan Cinta Almamater” untuk tanggal 11 Maret dari BEMJ Kesehatan Lingkungan dan BEM Poltekkes Kemenkes Jkt 2, diharapkan partisipasinya. Terima kasih” (pemberitahuan dari salah seorang teman yang juga pengurus BEM-J dari kelas saya)

Ya, tepat hari Kamis, 7 Maret 2013 pukul 16.45 akhirnya sosialisasi Gerakan Cinta Almamater dibuka oleh moderator setelah menunggu lama karena menurut pemberitahuan tadi pukul 16.00 akan dibuka forum ini, namun nyatanya forum ini masih dengan tradisi Indonesia yaitu ngaret. Okey, never mind..

Moderator akhirnya membuka forum ini diawali dengan membacakan susunan acara dari awal hingga akhir. Dan dari susunan acara itu terdapat penjelasan power point mengenai tujuan dan maksud untuk mengadakan “Gerakan Cinta Almamater” ini, serta ada sesi diskusi, tanya jawab, dan pemberitahuan mengenai sanksi dan hukuman untuk yang melanggar peraturan yang telah dibuat itu. Itu yang saya ingat betul, ada sesi diskusi. Karena memang sesi ini yang ditunggu-tunggu oleh saya maupun rekan-rekan Mahasiswa lainnya.

Okey, kita flashback. Sebelumnya saya dan rekan-rekan Mahasiswa di kampus saya ini sudah mengetahui akan diadakannya “Gerakan Cinta Almamater” ini. kami mengetahui gerakan ini dari sejak awal kami resmi menjadi Mahasiswa di kampus ini, karena saat PPSM kami telah dikenalkan dengan program yang sudah menjadi tradisi di lima jurusan dari tujuh jurusan yang ada di kampus ini setiap tahunnya untuk Mahasiswa barunya.
Entah saya juga bingung kenapa ada program seperti ini? dari awal masuk hingga kemarin saat forum sosialisasi itu memori ingatan saya menyediakan ruang untuk memikirkan hal ini, memikirkan mengapa di kampus ini ada program seperti itu? mengapa kami Mahasiswa baru yang menjadi sasaran utama program ini? harus kah kami mengikuti program ini dengan sepenuh hati ketika kami telah mendengar segala macam bisikan bahwa program ini sarat dengan kesenioritasan? Dan yang saya tahu juga teman-teman di perguruan tinggi ternama di Indonesia tidak ada program semacam ini. Aneh memang kampus saya ini, mengapa bisa membuat program semacam ini?

Seiring berjalannya waktu saya mencoba membuka pikiran ini untuk bertanya-tanya dengan orang lain mengenai program ini layak atau tidak? Pernah suatu kali saya bertanya dengan salah seorang Mahasiswi dari salah satu Universitas terkenal di Jakarta ini. “Ka, menurut kakak aneh engga sih kalo di kampus itu ada program ospek almamater? Masa di kampus saya ada program wajib seperti ini ka. Coba bayangin aja, masa kita udah ospek PPSM, LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) terus ada ospek almet juga? Waktunya juga panjang pula.” Kurang lebih kalimat pertanyaan saya seperti itu. dan beliau menjawab dengan menggebu-gebu “menurut kakak itu program bagus dek, malah sangat bagus, ada program seperti itu. di kampus kakak malah engga ada program seperti itu. malah kakak, inginnya ada program seperti itu, karena kalau tidak ada program kayak di kampus kamu itu almamater Mahasiswa itu hanya sebagai gantungan saja dirumah nya, dan kalau di pakai juga saat ada acara-acara kampus dan saat sidang akhir nanti saja. Sampaikan kepada pengurus BEM kampus kamu kalau kakak salut ada program seperti itu.”
Setelah percakapan tadi, saya kembali menyempatkan untuk berpikir mengenai hal ini. masih bertanya-tanya dalam hati, haruskah ini dilakukan dengan sepenuh hati?

Beberapa macam pertanyaan saya di otak ini terjawab sudah setelah mengikuti forum itu. Saat dibuka sesi diskusi, moderator mempersilakan peserta yang hadir untuk mengajukan pernyataan maupun pertanyaan. Dan sesi ini dimulai oleh seorang ketua angkatan saya yang mengajukan beberapa kekecewaan dengan forum yang dadakan ini, serta mengajukan beberapa pertanyaan mengenai tenggat waktu untuk gerakan ini yaitu selama satu bulan penuh dengan beberapa persyaratan yang ada, yang (katanya) sudah menjadi kesepakatan bersama.

Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai dijawab oleh perwakilan pengurus dan ketua program ini, dan hasilnya kurang memuaskan menurut saya. Okey, dilanjutkan dengan sesi diskusi yang semakin menggebu-gebu untuk mengeluarkan suara kami sebagai mahasiswa baru di kampus ini yang masih belum menerima untuk tenggat waktu yang diberikan ini.
Dan tetiba dengan refleks tangan kanan saya ini mengangkat ke atas dan kagetnya langsung ditunjuk dan diberikan microphone oleh moderator namun saya menolak untuk menggunakan microphonenya tersebut. “Assalamu’alaykum wr.wb. senang rasanya kami dapat berkumpul dalam forum sosialisasi gerakan cinta almamater ini dan kebetulan ada ketua BEM Poltekkes dan BEMJ Kesehatan Lingkungan hadir disini. Saya ingin meminta tolong diyakinkan bahwa mengapa kami harus mengikuti gerakan cinta almamater ini dengan sepenuh hati dan rasa kebanggaan tersendiri pada almameter ini? dan yang saya tau juga bahwa teman-teman saya yang di universitas lainnya mereka bangga menggunakan almamater mereka saat mereka turun ke jalan membela hak-hak rakyat kita, dan apa yang dapat membuat saya serta rekan-rekan mahasiswa disini yakin dan bangga dengan menggunakan almamater ini selama satu bulan penuh, dan satu bulan ini merupakan hal yang saklek yang tidak dapat diganggu gugat yang belum ada kata kesepakatan ini, karena yang saya tahu kesepakatan adalah ketika terjadi persetujuan antara kedua belah pihak yang menjalankan, bukan? sekian dan terima kasih. Wassalamu’alaykum wr.wb”

Ini adalah pengalaman pertama diri saya selama kuliah di kampus ini, berbicara di depan satu angkatan jurusan kesehatan lingkungan, di depan para pengurus BEMJ maupun BEM Poltekkes bahkan ketua umumnya pun hadir. Ini merupakan hal yang paling fenomenal dalam diri saya karena begitu penasaran akan program ini sampai-sampai refleks hingga berbicara dengan suara yang apa adanya di depan umum itu. *lupakan*

Dan seseorang yang saya tujukan pertanyaan pun maju untuk menjawab pertanyaan saya yang agak norak ini (haha :p).. “ begini ya, tanpa kita harus turun ke jalan pun kita seharusnya bangga dengan almamater kesehatan ini. dengan adanya gerakan ini kita dapat menghargai satu sama lain, kita dapat menjaga almamater ini dengan baik. Ketika saya dan teman-teman di jurusan saya turun ke jalan pun juga pernah menggunakan almamater ini, namun biasa saja. Turun ke jalan itu capek dek, maka dengan adanya gerakan ini kita dapat menghargai almamater kita ini.” kurang lebih seperti itu kalimat yang saya ingat dari pemimpin tertinggi organisasi di kampus saya.

Dengan menyimak jawaban dari beliau-beliau ini saya sempatkan untuk menulis kalimatnya di atas kertas milik saya, agar saya dapat memikirkan kembali jawaban-jawaban dari mereka.

Diskusi semakin menarik karena sudah beberapa kali moderator mengajukan tenggat waktu untuk forum ini agar segera diakhiri karena berbenturan dengan izin ruangan yang sudah melebihi batas waktu serta bertele-telenya diskusi yang hanya terfokus pada hal yang itu-itu saja.

Jam dinding di ruangan sudah menunjukkan pukul 18.15 dan itu menandakan untuk dipending istirahat sholat maghrib sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan diawal forum tadi dan dengan istirahat ini saya berpamitan untuk segera pulang karena suatu hal dan tidak dapat mengikuti forum ini kembali setelah istirahat sholat.

Hari pun berlalu, 11 Maret 2013 tepatnya hari yang diperdebatkan saat di forum itu datang menyapa wajah-wajah mahasiswa tingkat satu, tak terkecuali diri saya yang harus menggunakan almamater beserta peci hitamnya itu. bisa dikatakan kampus saat itu adalah lautan biru karena memang almamater kampus saya berwarna biru terang. Seminggu berlalu, dua minggu berlalu hingga akhirnya satu bulan penuh pun telah berlalu. Banyak hal yang tentunya saya dapatkan dari gerakan ini, entah itu positif ataupun negatif. Tapi mungkin negatifnya hampir tidak ada, karena memang tujuan diadakan gerakan ini adalah untuk hal yang positif. Saya mendapatkan pelajaran bahwa memang segalanya tak boleh disalahkan sebelum kita melakukannya, bahwa kita memang selayaknya harus bangga pada almamater kampus kita, bahwa setiap kita harus menjaga nama baik almamater kita, bahwa kita tidak selayaknya membanding-bandingkan almamater kampus kita dengan kampus-kampus yang lainnya, bahwa kita memang harus saling menjaga satu sama yang lainnya ketika yang lainnya kehilangan sesuatu dari atribut almamaternya, kita harus mematuhi peraturan yang ada. Dan satu hal yang selalu saya ingat dari gerakan ini adalah tentang adanya “saling mengingatkan satu sama lainnya untuk memakai peci saat keluar kelas” (hehe).

Dibalik banyak hal positif yang saya dapatkan ternyata masih ada segelintir mahasiswa yang kurang bangga terhadap almamaternya sendiri yang padahal akan memberikan pelajaran kehidupan di dunianya yang baru. Mereka kurang percaya diri untuk menggunakan almamater kampusnya sendiri, mereka masih terbawa oleh arus yang berlawanan. Walau terkadang kita harus berlawanan arus dalam kehidupan ini, namun untuk hal ini saya mencoba untuk mengikuti arus yang telah ada.

Ahiya satu hal lagi yang saya ingin katakan terkait pernyataan pemimpin organisasi di kampus saya tentang turun ke jalan dengan memakai almamater itu jangan dilihat lelahnya, tapi dilihat dari rasa cinta kita pada nasib peradaban ini. turun ke jalan merupakan salah satu cara kita menyampaikan aspirasi rakyat, yang saya yakini adanya kata “Maha” dalam status yang kita sandang ini adalah karena adanya sebongkah harapan besar rakyat Indonesia terhadap kita yang katanya mengaku sebagai “Mahasiswa” untuk mewakili suara mereka menyampaikan aspirasinya kepada para penguasa di negeri ini yang mungkin saja para penguasa ini sedang lupa bahwa ada amanah besar dipundak-pundaknya, yang mungkin saja mereka sedang lupa bahwa kaki-kaki mereka berada di tengah-tengah antara surga dan neraka. Karena amanahnya bisa jadi memuliakan atau menghinakan. Ya, intinya mah ya jangan anti untuk turun ke jalan (hahaha :p) *piiiiissssss

Dan terselip harapan pada diri ini untuk rekan-rekan seperjuangan di kampus kesehatan ini. “Bila kamu memang sayang kepada negeri ini, buang Tuhan 9cm-mu (Rokok) dari hidupmu. Jangan pernah bilang kamu menyayangi negeri ini bila kamu masih belum bisa menyayangi dirimu sendiri. Menyayangi tubuhmu, menyayangi kesehatanmu”. Selipkan rasa malu kita pada almamater kesehatan yang sering kali kita gunakan untuk bercengkrama langsung dengan masyarakat, untuk terjun langsung melihat kondisi lingkungan yang kini sudah menjadi amanah dalam diri kita sebagai calon sanitarian.

Saya mengatakan seperti ini karna sungguh diri ini sudah terlanjur (jatuh cinta) pada lingkaran kesehatan ini, yang di dalamnya ada kalian. :) :) :)

“Orang-orang terlampau banyak yang tidak tahu akan makna cinta yang sebenarnya. Bahwa cinta, bukan saja mengenai apa-apa yang dapat dan merasa sudah kita berikan kepada orang lain, tapi juga apa-apa yang terbaik yang sudah kita perbuat, agar orang lain tidak merasa dirugikan atas kita.”

Dan yang tak terlupakan lagi adalah dari Ge-Ra-Kan Cin-Ta Al-Ma-Ma-Ter ini adalah kita belajar tentang “KESABARAN DAN KEIKHLASAN”. Ikhlas dan sabar ketika djutekin kakak tingkat, ikhlas menjalani hukuman ketika salah, ikhlas ketika harus menggunakan peci saat keluar kelas, ikhlas harus menjaga almamater ini disaat hujan dan yang lainnya. (Hahaha :p)

Mohon maaf jika banyak kesahalan.
Sekian,



Dari seorang rakyat biasa yang mengaku Mahasiswa yang akan mencoba terus belajar :)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Surat Cinta dari Ukhti ku

Bismillah ...  Assalamu’alaykum Ukhti Wida ... “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”  (QS. Al-Hujarat : 10) Iya, kita adalah saudara. Saudara yang diikatkan iman kepada Allah, ukhti ... “Persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan dengan Allah persatukan hati-hati berserakan saling bersaudara, saling merendah lagi memahami, saling mencintai, dan saling berlembut hati” (Sayyid Quthb) Sungguh indah sekali ukhuwah itu  Sejak pertama aku bertemu kamu di acara salam hingga menjadi satu halaqoh, menjadi hal yang sangat luar biasa ... Sungguh, atas segala izin-Nya kita dapat mempertahankan ukhuwah ini ... Ukhti, jazakillah khair katsiran atas segala pemberianmu kepadaku, perhatian dan semuanya. Ukhti, afwan jiddan ya jika aku banyak salah. Semoga jilbab ini menemani hari-hari mu, untuk terus berjua...

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...
Kontemplasi awal tahun 2023 ku ada beberapa yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran dan benak hati, tentang : Menyamakan frekuensi itu perlu, agar tak keliru dalam perjalanan panjang. Sebab nantinya ia yang kau pilih kan menjadi sahabat dalam perjalanan ibadah terpanjang dalam kehidupanmu yang ending dan muaranya adalah reuni di Jannah-Nya. Tentang Berkomitmen pada Yang Abadi, sebab sumber kekuatan dan kebahagiaan berasal dari-Nya. Karna seringkali diri ini masih berharap pada manusia yg sudah diketahui tempatnya khilaf tapi masih saja menaruh harap yang akhirnya berujung kecewa. Tentang takdir-Nya yang tak memerlukan alasan sebab, karna jika Allah telah berkehendak sudah pasti terjadi.  Lalu, apakah engkau masih ragu wahai diri tentang segalanya yang telah diatur sedemikian rapi dan indah oleh-Nya? Bukankah mengimani Takdir adalah salah satu dari Rukun Iman kita? Lantas apalagi yang engkau ragukan dalam kehidupan ini? Padahal setiap daun yang gugurpun jatuh atas seizin-Nya, buk...