| gambar diambil dari sini |
Semburat fajar yang mulai muncul di
kala subuh sudah beberapa hari ini
sepertinya malu-malu untuk menyapa indahnya dunia. Sinarnya yang indah, kini
jarang sekali terlihat. Muncul dirinya yang menandakan aktivitas kehidupan merupakan
alarm bahwa lembaran baru dalam hidup sudah dimulai untuk dilalui dengan
menyertakan Dzat Yang Maha Pencipta selalu, disetiap gerak dan nafas.
Seperti biasa kehidupan rumah
diwaktu pagi, semua sibuk mempersiapkan diri untuk menjalani aktivitasnya
masing-masing. Ada yang membereskan buku pelajaran, memasak untuk sarapan dan
bekal anak-anaknya, ada yang menonton televisi, menyiapkan perlengkapan untuk
kerjanya, dan ada pula yang masih menyisihkan waktunya untu bebenah rumah sebentar
sebelum berangkat kuliahnya.
Menyongsong pagi berangkat kuliah dengan
berjalan kaki hingga jalan raya untuk menaiki kendaraan umum menuju halte bus
transjakarta yang mulai sekarang ini menjadi kendaraan langganannya untuk
menuju kampus. sampai di tujuan, terasa bingung dengan aktivitas sekitar, ada
yang berlari-lari kecil, ada yang berjualan, ada banyak yang sedang berpamitan
dengan suaminya yang mengantarnya ke halte bus, dan lainnya. Ternyata
orang-orang tadi yang berlari-lari kecil dan orang-orang yang berpamitan dengan
para suaminya mempunyai tujuan yang sama dengan saya, yaitu halte bus
transjakarta. Tak pernah sebelumnya saya merasakan hal seperti ini karena
sebelumnya saya bukan pengguna bus transjakarta untuk akses menuju kampus dipagi
hari, cukup bergetar dan bingung hari ini, kemarin dan mungkin besok, serta
lusa atau bahkan hingga selanjutnya melihat banyaknya manusia yang
berlomba-lomba untuk mendapatkan antrean tiket paling depan. Masih dengan
kebingungan yang ada di dalam diri ini, saya mencoba diam. Saya hanya
memperhatikan dengan seksama di dalam antrean untuk memasuki bus jalur khusus
wanita. Sama. Ternyata semua berebut untuk mendapatkan tempat duduk, agar tidak
berdiri. Karena memang jalur yang dituju kebanyakan penumpang di halte ini
cukup jauh. Bisa memakan waktu hingga dua jam dihitung dengan macet yang ada di
ibukota ini.
Di dalam bus saya mencoba
memperhatikan sekitar, ternyata ada yang memilih asik dengan gadget, serta ada
yang asik mengobrol dengan rekan sesamanya di kantor, ada yang membaca
Al-Qur’an, ada yang membaca bukunya, bahkan ada yang milih untuk (ter)tidur. Pertanyaan
dalam hati ini mulai bermunculan, “akankah mereka melakukan ini setiap harinya?”,
“Untuk apa sebenarnya mereka rela
berebut bus dipagi-pagi buta dan pulang pun terkadang sampai larut malam?”, “Tidak bosankah mereka harus melakukan rutinitas
ini setiap harinya?”.
Sesampainya
di kampus, saya dengan berdiri tegak dan mencoba untuk percaya diri menghadapi
ujian akhir semester ini dari apa-apa yang sudah saya pahami, pelajari, lihat
serta yang pernah saya dengar untuk menjawab soal-soal di atas wahana kertas
putih itu. Bismillah, ujar saya setiap ingin memulainya.
Selepas dari
ujian kembali pikiran ini diingatkan dengan pertanyaan-pertanyaan hati di dalam
bus tadi. Ya, saya mencoba meyakini jawaban pertanyaan hati tadi, bahwa mereka
melakukan rutinitas tersebut pasti dengan sepenuh hati, walau terkadang saya
rasa bosan pasti menghampiri, tapi mereka seketika ingat akan tujuannya
melakukan rutinitas tersebut yaitu untuk terpenuhinya sandang-pangan-papan
mereka, untuk kehidupan mereka sehari-hari. dan tak sedikit dari mereka yaitu
hanya untuk sesuap makan saja setiap harinya.
Ah, saya
jadi teringat dengan kalimat seseorang tentang manusia yang melakukan rutinitas di dunia ini
dalam hingar-bingarnya kehidupan yang sering kali melupakan makna hakikat dari
penciptaannya di dunia ini.
“... Kehilangan
karsa tentang hakikat tujuan penciptaan. Manusia diciptakan oleh Allah memang
untuk bekerja mencari nafkah. Mencari penghidupan. Kesempurnaan-Nya ada
pada terciptanya keinginan-keinginan manusia untuk terus maju dan
berkembang. yang dengan itu, Allah jadikan kehidupan manusia itu terus berjalan
tak berhenti sepanjang zaman.
Lalu,
berhentikah sampai situ? tidak bagi saya. Allah juga menciptakan kehidupan
bahkan menjanjikan kebahagiaan abadi setelahnya. Khusus untuk orang-orang yang
beriman. Di tengah-tengah modernisasi, saya dan seharusnya juga manusia-manusia
itu kembali pada hakikatnya penciptaan. Ibadah. Maka kerja keras apapun yang
dilakukan, akan terasa lebih menyejukkan ketika dipersiapkan untuk kehidupan
yang lebih kekal”.
Saya masih mahasiswa yang masih
butuh pembelajaran dari kehidupan ini, dan semoga ini dapat menjadi pengingat
saya, kamu dan mereka. yang sering kali melupakan makna penciptaan, yang sering
kali terlalu bersemangat berlomba-lomba mengejar gelar, mengejar kekuasaan,
sikut kanan-kiri hanya untuk mendapatkan uang yang akan habis dimakan oleh
waktu dan keinginan-keinganan semata, dan menyiakan ladang amal kebaikan yang
sebenarnya untuk perbekalan kehidupan nanti, kehidupan yang abadi dibanding
sekarang ini.
Ya, semoga saja Allah selalu membimbing
langkah kaki-kaki saya, kamu dan mereka untuk terus berada di jalur yang aman
terhindar dari bahaya kehidupan, dan diridhoi untuk mencapai keberkahan dan
kecintaan dari Allah semata.
“Allahumma anta
robbii laa ilaaha illaa anta , kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘ala ‘ahdika
wawa’dika maastatho’tu , a ‘uudzubika minsyarrimaashona’tu , abuu u laka
bini’matinika ‘alayya wa a buu u bidzanbii faaghfirlii fainnahu laa yaghfirudzunuuba
ilaa anta.
Ya Allah, Engkau Tuhanku, tidak ada
Tuhan melankan Engku, Engkau menciptakanku, aku hamba-Mu, aku berada dalam
perjanjian dengan-Mu dan ikrar pada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari
kejahatan apa yang aku perbuat, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau curahkan
terhadapku, dan aku mengakui atas dosaku, maka ampunilah aku, karena
sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau”. (HR. Bukhari)
Aamiin Allahumma Aamiin ...
#Sudut kamar yang damai, Jakarta 29-01-2014
Komentar
Posting Komentar