Langsung ke konten utama

Sepi, Sendiri, Bahagia Diriku



Dalam ramainya kehidupan aku selalu mencoba menghindar untuk terus mencari kesepian. Aku tak suka dengan keramaian. Entah aku benar-benar tak suka dengan suara banyak orang. Biar banyak yang berkata bahwa kesendirian itu membosankan, biarkan aku berkata lain tentang kesendirian. Jika aku berada dalam keramaian, itu bukan benar-benar diriku. Yang hadir disana hanya ragaku, bukan jiwaku. Jiwaku melayang entah hinggap dimana.


Sepi. Sendiri. Bahagia Diriku. Dalam keramaian hingar-bingarnya kehidupan dunia, aku memilih mengasingkan diri. Biar disana banyak orang berebut bahagia dengan caranya mencemplungkan diri dalam keramaian, aku lebih baik menyepi, sendiri. Sebab itu bahagia diriku. Dalam sepi aku dapat merasakan tentang apa-apa saja yang aku rasa, kemudian menulis dalam lebar kosong dalam laptop ataupun diari. Dalam sendiri aku merasakan kebebasan ketika ada banyak orang yang selalu berebut kasih sayang yang belum tentu itu terbaik baginya dan lantas berakhir begitu saja ditengah jalan- menyedihkan. Aku merasakan kasih sayang dari orang sekitar yang memang benar-benar ada untukku. Walaupun terkadang memang kembali lagi aku akan tetap sendiri selepas mereka bertegur sapa, lalu bertanya soal kabar dan lantas kembali pulang. Dan akhirnya sendiri (lagi).

Pernah ada yang mengatakan “kita tidak benar-benar menyukai kesendirian”, lantas hati terdalamku mengatakan “memang benar”. Tapi bagiku ada saatnya kesendirian itu akan disudahi ketika waktunya tiba nanti, bukan? Saat ini kesendirian yang aku maksudkan adalah menyendiri dari panggung pentas kehidupan. Dimana semua orang berebut tampil untuk menunjukkan kehebatan, aku menepi untuk menyepi dan menikmati sendirian untuk dapatkan bahagia diriku.

Berlama-lama dalam sujud panjang ditengah malam, sendiri. Ah, lupa. Kala itu aku tak sendiri, tapi ada yang menemani. Sunyi, sepi yang ada hanya suara kipas angin yang membuat diri terkadang menjadi dingin tak karuan. Lalu dalam sujud dengan sendirinya menangis tersedu-sedu, seakan semua beban hidup tertumpahkan semua dalam obrolan indah dengan Sang Maha Setia. Menyepi dipojok kamar merancang sebuah mimpi untuk tampil dipentas kehidupan suatu saat nanti, saat aku benar-benar siap dan berani meyakinkan mereka bahwa ini memang benar diriku sepenuhnya.

Aku seringkali berhadapan dengan banyak orang, tapi seringkali pula bertanya pada diriku “apakah benar ini adalah diriku yang sebenarnya?” yang mencoba percaya diri berbicara dengan banyak orang, yang mencoba menjadi provokator di banyak kesempatan ditengah-tengah mereka teman seperjuangan, dimasukkan dalam berbagai grup, menjadi yang sering dimintai nasehat (walau hanya sekedar meluruskan).

Bukankah ibu-bapak saat aku TK hingga aku SMP mereka seringkali kena tegur, bahwa anaknya yang satu ini seperti orang bisu. Tidak banyak berbicara, dan lebih banyak diamnya?
Sampai saat ini aku memang masih meyakini diriku, bahwa memang bukan passionku berbicara di atas pentas panggung kehidupan. Aku meyakini bahwa memang diriku lebih menyukai Sepi, Sendiri untuk merasakan Bahagia Diriku dalam dimensi pandang berbeda dengan lainnya.

Dalam sendiri terkadang muhasabah akan terlihat dengan pasti sudah sejauh mana amal maksimal dilakukan? Dalam sepi, terkadang membuat diri semakin sadar bahwa jiwa dan raga seringkali tidak pernah bisa menyatu dalam satu pijakan. Saling berkelana dan kembali bersatu ketika menepi, menyepi dan menyendiri. Berdiri dan sujud mengalahkan superioritas diri.

Dan bukankah, saat nanti kita akan kembali sendiri mempertanggung jawabkan apa-apa yang terjadi dalam diri?

Ah. Aku memang suka dengan Sepi, Sendiri, sebab itu Bahagia Diriku. Entahlah, semoga saja sepi, sendiri ku ini membuat jiwa semakin tetap lurus hingga akhir nanti.
Tapi, pada akhirnya aku (memang) tak pernah benar-benar sendiri. Sebab ada yang selalu menemani diri, Dia Yang Maha Setia yang sangat dekat lebih dari urat nadiku sendiri.


Jakarta, 17 Juni 2015
#sudut kamar dalam sepi, sendiri

Komentar

  1. Ida jangan menyendiri terus gaul gaullll.... tar ga punya temen lohhh ^^/

    BalasHapus
  2. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Surat Cinta dari Ukhti ku

Bismillah ...  Assalamu’alaykum Ukhti Wida ... “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”  (QS. Al-Hujarat : 10) Iya, kita adalah saudara. Saudara yang diikatkan iman kepada Allah, ukhti ... “Persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan dengan Allah persatukan hati-hati berserakan saling bersaudara, saling merendah lagi memahami, saling mencintai, dan saling berlembut hati” (Sayyid Quthb) Sungguh indah sekali ukhuwah itu  Sejak pertama aku bertemu kamu di acara salam hingga menjadi satu halaqoh, menjadi hal yang sangat luar biasa ... Sungguh, atas segala izin-Nya kita dapat mempertahankan ukhuwah ini ... Ukhti, jazakillah khair katsiran atas segala pemberianmu kepadaku, perhatian dan semuanya. Ukhti, afwan jiddan ya jika aku banyak salah. Semoga jilbab ini menemani hari-hari mu, untuk terus berjua...

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...
Kontemplasi awal tahun 2023 ku ada beberapa yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran dan benak hati, tentang : Menyamakan frekuensi itu perlu, agar tak keliru dalam perjalanan panjang. Sebab nantinya ia yang kau pilih kan menjadi sahabat dalam perjalanan ibadah terpanjang dalam kehidupanmu yang ending dan muaranya adalah reuni di Jannah-Nya. Tentang Berkomitmen pada Yang Abadi, sebab sumber kekuatan dan kebahagiaan berasal dari-Nya. Karna seringkali diri ini masih berharap pada manusia yg sudah diketahui tempatnya khilaf tapi masih saja menaruh harap yang akhirnya berujung kecewa. Tentang takdir-Nya yang tak memerlukan alasan sebab, karna jika Allah telah berkehendak sudah pasti terjadi.  Lalu, apakah engkau masih ragu wahai diri tentang segalanya yang telah diatur sedemikian rapi dan indah oleh-Nya? Bukankah mengimani Takdir adalah salah satu dari Rukun Iman kita? Lantas apalagi yang engkau ragukan dalam kehidupan ini? Padahal setiap daun yang gugurpun jatuh atas seizin-Nya, buk...