Langsung ke konten utama

Perpisahan dengan yang terkasih


Beberapa hari lalu, setelah berbuka puasa aku dikejutkan oleh seorang kawan mengenai apa yang terjadi dengan dirinya dan keluarganya saat ini. Dirinya memberikan kabar padaku saat ia meminta pada ku untuk menjadi teman sharingnya yang awalnya via whatsapp, namun aku kurang puas jika sebuah masalah seperti ini hanya via dunia maya karna aku tidak bisa langsung menatap kejujuran matanya, sebab jika hanya via maya aku tak bisa menjabat tangannya erat untuk menguatkannya. Lantas aku memintanya untuk bertemu denganku langsung esok harinya.

Masalah yang dialamaninya adalah sebuah perpisahan orangtua yang membuatnya tak sanggup untuk menahan airmatanya untuk mengalir deras ke pipinya. Dirinya menceritakan setiap kejadian yang terjadi pada keluarganya kepadaku. Sebenarnya aku takut dengan hal ini, sebab khawatir jika aku tak bisa memberikan solusi untuknya. Namun, melihat dirinya yang begitu ketakutan aku memberanikan diri untuk menjadi temannya yang siap untuk mendengarkan setiap cerita yang disampaikannya.

Ternyata kantung airmataku tidak sanggup menahan tangis, airmataku begitu saja membasahi pipi. Ya, aku ikut menangis saat mendengar dirinya bercerita tentang apa yang terjadi sebenarnya, mengeluarkan airmata tangis kesedihan yang dialami dalam hidupnya kini. Aku memegang tangannya erat, mengelus bahunya, meneguhkan dirinya, meyakinkan dirinya bahwa dia tidak pernah sendiri dalam hidup ini, ada aku disampingnya yang siap menguatkannya. Sebuah perpisahan yang menjadi momok menakutkan bagi dirinya, itu terjadi.

Dia yang aku kenal sebagai seorang kawan yang kuat, cerdas, dan selalu bisa apa saja, yang tak pernah menangis dalam kondisi apapun itu, ternyata dia kini sedang menangis. Merasakan betapa berlikunya kehidupan ini, menghadapi kenyataan di depan mata bahwa ayah dan ibu nya akan berpisah, disaat dirinya sebentar lagi akan mengenakan toga kebanggaan. Dan pasti dirinya akan menjadi salah satu yang paling membanggakan saat wisuda nanti, sebab ia menjadi kandidat mahasiswa berprestasi di kampusku.

Menarik napas, dalam-dalam. mencoba memberikan sedikit kata untuknya agar lebih kuat menghadapi semua ini. Menyerahkan segalanya pada Allah Yang Maha Tahu. Meyakinkan dirinya terus menerus bahwa memang jika ini jalan terbaik, maka segalanya memang telah Allah atur dengan rapi. Kukatakan padanya bahwa “setiap hembusan napas kita pun telah Allah atur, bahkan daun yang jatuh ke bumi pun, sudah Allah atur. Maka mintalah kekuatan pada Allah untuk menghadapi semua ini. Serahkan segalanya sama Allah. jangan memikirkan nantinya kamu hidup tanpa ada ayah, melainkan bagaimana cara kamu menjaga mamahmu dengan baik”.

Dan sebentar lagi, dirinya akan mengalami momok paling menakutkan itu. Perpisahan orangtuanya. Tapi, mau bagaimanapun juga ia masih tetap memiliki sesosok ayah dalam dirinya walau tak akan lagi satu atap dengan dirinya, tapi toh tetap dirinya adalah seorang anak dari ayah dan ibunya. Mau seperti apapun kondisinya.

----------------------------------------------

Satu lagi, perpisahan yang dialami oleh seorang temanku yang lainnya. Perpisahan dengan ibundanya yang meninggal karna sakit kanker yang begitu cepat menyerang orang terkasihnya itu. Sempat menelponku dipagi hari menanyakan mengenai trombosit darah untuk ibundanya. Lalu aku mencoba menyebarkannya sesegara mungkin. Dan mendapatkan dari beberapa teman lainnya mengenai informasi yang diinginkan. Memberi kabar padanya mengenai info yang ku dapat , namun mendapatkan balasan “Gausah Da makasih yaa Wida”. Hanya itu balasannya.

Aku masih gelisah dan mencoba menanyakannya kembali mengenai trombositnya. Tak ada balasan. Dan beberapa menit kemudian beredar kabar di grup bahwa ibundanya telah tiada, meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Ah, bukan. Hanya untuk sementara, sebab ia akan bertemu kembali dengan ibundanya di Surga-Nya nanti. Aamiin…

Melayat ke rumah duka, melihat temanku. Ah, dia nampak tegar sekali menghadapi perpisahan itu. Dari matanya yang sudah tak ada lagi airmata yang keluar, yang ada hanyalah mata yang sembab sebab tangisnya yang sudah tumpah dari jauh-jauh hari lalu. Malah aku yang menangis saat memeluk dirinya. Ah, dirimu lebih kuat ternyata dari diriku.

Dan satu hal yang aku ingat dari perkataannya saat bercengkrama dengannya saat melayat “kemarin-kemarin, pas berdoa sama Allah belum ada kata ikhlas untuk ibu meninggal, tapi setelah kesini-sini. Mau bagaimana lagi, toh ibuku memang punya Allah. aku ga bisa berbuat apa-apa?” itu yang ku ingat untuk dijadikan pelajaran hari itu. Semua kan kembali pada Sang Pencipta, tanpa terkecuali orang terkasih kita dan bahkan diri kita sendiripun akan kembali pada-Nya.

Terlintas dalam pikirku, “lantas bagaimana jika itu yang terjadi padaku, bisakah diriku sekuat dan setegar dirinya?”

-------------------------------------------------

Dari dua orang teman ini sungguh, aku tidaklah ada apa-apanya. Nol untuk soal ketegaran dan kekuatan. Diriku lemah tak berdaya (sebenarnya) ketika menghadapi sebuah perpisahan. Sebab kata “perpisahan dengan yang terkasih” itu yang paling aku takutkan.

Satu temanku berpisah dengan ayahnya, walau sebenarnya tak benar-benar berpisah, hanya raga yang tak bersama. Satu lagi berpisah dengan yang namanya seorang Ibu. Berpisah dengan raga dan alam yang berbeda. Walau pada akhir nantinya akan berjumpa kembali di taman surga-Nya. Allah, karuniakan kelembutan hati pada teman-temanku, untuk tetap terus berprasangka baik kepada-Mu. Kuatkan mereka dengan kasih dan sayang-Mu selalu, jaga mereka duhai Robb ku.

Hal ini sungguh mengingatkanku pada orangtuaku yang masih sehat, masih dapat kulihat senyum diwajah mereka. Yang masih menghaturkan doa untuk anak-anaknya, yang masih terus memberikan uang jajan untuk anak-anaknya. Ibu dan Bapak.

Sepintas teringat bahwa dari dahulu hingga kini aku belumlah membahagiakan keduanya. Padahal mereka masih dalam wujud nyata ada di depan mata. Mau sampai kapan diriku terus lalai pada mereka? Kalo kata Irfan Hakim “mumpung mereka masih ada, berbaktilah. Turutilah. Berbuat baiklah pada mereka”. Allah, ampunkan diri ini :((

Dan pada akhirnya memang pada dasarnya kita semua akan kembali sendiri. Di dunia ini hanya sementara sifatnya berkumpul dengan yang terkasih- tak ada yang abadi. Toh, nantinya akan kembali masing-masing berdiri menghadap Sang Maha Hidup mempertanggung jawabkan tentang kehidupan yang dilakoninya.


Allah, mampukan dan kuatkan hamba-Mu yang lemah ini untuk bisa terus mentaati perintah-Mu. Untuk terus bisa berbakti, berbuat baik pada orangtuaku, mereka yang terkasih. Hingga nanti, sampai saatnya tiba diriku menghadap-Mu dengan senyum terindah. Bahagiakan lah mereka Ya Allah, sebagaimana mereka membahagiakan ku sewaktu kecil hingga saat ini. Jaga mereka selalu dengan kelembutan Kasih-Mu, sirami hatinya dengan cinta kepada-Mu.

Aamiin Allahumma Aamiinn ….


#Jakarta- Rumah
 7 July 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Surat Cinta dari Ukhti ku

Bismillah ...  Assalamu’alaykum Ukhti Wida ... “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”  (QS. Al-Hujarat : 10) Iya, kita adalah saudara. Saudara yang diikatkan iman kepada Allah, ukhti ... “Persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan dengan Allah persatukan hati-hati berserakan saling bersaudara, saling merendah lagi memahami, saling mencintai, dan saling berlembut hati” (Sayyid Quthb) Sungguh indah sekali ukhuwah itu  Sejak pertama aku bertemu kamu di acara salam hingga menjadi satu halaqoh, menjadi hal yang sangat luar biasa ... Sungguh, atas segala izin-Nya kita dapat mempertahankan ukhuwah ini ... Ukhti, jazakillah khair katsiran atas segala pemberianmu kepadaku, perhatian dan semuanya. Ukhti, afwan jiddan ya jika aku banyak salah. Semoga jilbab ini menemani hari-hari mu, untuk terus berjua...

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...
Kontemplasi awal tahun 2023 ku ada beberapa yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran dan benak hati, tentang : Menyamakan frekuensi itu perlu, agar tak keliru dalam perjalanan panjang. Sebab nantinya ia yang kau pilih kan menjadi sahabat dalam perjalanan ibadah terpanjang dalam kehidupanmu yang ending dan muaranya adalah reuni di Jannah-Nya. Tentang Berkomitmen pada Yang Abadi, sebab sumber kekuatan dan kebahagiaan berasal dari-Nya. Karna seringkali diri ini masih berharap pada manusia yg sudah diketahui tempatnya khilaf tapi masih saja menaruh harap yang akhirnya berujung kecewa. Tentang takdir-Nya yang tak memerlukan alasan sebab, karna jika Allah telah berkehendak sudah pasti terjadi.  Lalu, apakah engkau masih ragu wahai diri tentang segalanya yang telah diatur sedemikian rapi dan indah oleh-Nya? Bukankah mengimani Takdir adalah salah satu dari Rukun Iman kita? Lantas apalagi yang engkau ragukan dalam kehidupan ini? Padahal setiap daun yang gugurpun jatuh atas seizin-Nya, buk...