COVID-19
Ingin kuceritakan kisah tentang
sebuah Wabah di Negeri ini. Nak, dulu sekitar awal bulan Maret tahun 2020 saat
Ibu berusia menjelang 26 tahun pernah ada suatu wabah yang melanda negeri ini.
Wabah Virus Corona dan nama penyakitnya Covid19. Saat itu belum ada obatnya.
Qadarullah, nama Ibu saat itu tertera masuk dalam bagian Tim Gerak Cepat tempat
Ibu bekerja, Nak.
Kami semua khawatir. Takut. Tapi
tetap harus berjuang bersama. Saat itu anjuran pemerintah kita diharapkan semua
dapat bekerja, belajar dan beribadah dirumah saja dan baru kali itu selama Ibu
hidup kita menyambut Ramadhan dengan rasa yang berbeda, Nak.
Kami tak bisa sholat tarawih
berjama'ah di masjid, i'tikaf yang dirindu dipenghujung Ramadhan setiap
tahunnya pun tidak ada bahkan Shalat 'Ied berjamaah di tanah lapang ataupun masjid-mesjid
ditiadakan. Sedih bukan kepalang. Tak pernah mengira akan dihadapkan pada
keadaan seperti itu. .
Ibu tidak bisa jumpa dengan teman2
yang hampir setiap pekannya rutin dilakukan, lalu saat sanak saudara ada yg
meninggal pun kami tak bisa datang takziyah menunaikan kewajiban pada
saudaranya sebab terbentur dgn peraturan yg harus kita taati.
Saat semua unsur dianjurkan untuk dirumah
saja kami tidak bisa. Bahkan ada banyak para tenaga medis yg tak bisa jumpa dgn
keluarganya karna khawatir membawa virus bagi keluarga tercintanya. Banyak
tenaga medis yg gugur di medan tempur saat melawan virus ini. Tapi, Ibu percaya
mereka semua Syahid saat menghadap Allah sebab telah berjuang melawan bukan
pasrah menyerah pada keadaan
Qadarullah pada tanggal 16 Agustus,
Ibu juga menjadi bagian orang yang terpapar virus corona ini, Nak. Ibu
Alhamdulillah saat itu tidak mengalami gejala apapun, hanya terasa gatal yang
berlebih pada bagian hidung. Ibu mengikuti setiap prosedur protocol kesehatan
yang telah dianjurkan selama melakukan isolasi mandiri. Saat mendapat kabar
bahwa Ibu terkonfirmasi positif covid-19 kaget, sedih, bingung, namun lambat
laun Ibu mencoba menerima berdamai dengan hati dan keadaan. Menetralkan rasa
agar memaknai itu adalah bagian dari ujian yang Allah hadirkan yang tetap harus
disikapi dengan sabar dan syukur. Dan, benar saja saat Ibu melakukan isolasi
mandiri di rumah, hampir setiap hari bahkan dalam sehari bisa 2 sampai 3 paket
berdatangan ke rumah. Tanda bukti Allah menghadirkan cinta-Nya, tanda bahwa
banyak yang sayang dan support Ibu untuk segera pulih. Alhamdulillah tsumma
Alhamdulillah atas izin Allah, untuk swab ulang Ibu hasilnya negative. Begitulah,
Nak perjalanan kehidupan.
Hari demi hari Ibu meyakini diri
bahwa setiap apa yg terjadi takkan pernah keluar garis dari apa yg telah Allah
takdirkan. Allah hadirkan wabah ini pun dgn hadirkan penyelesaiannya. Sebab dlm
ayat cintanya Allah kabarkan "Sesudah kesulitan pasti ada kemudahan"
berarti jika ingin kemudahan kita harus melewati kesulitan terlebih dahulu.
Allah selalu hadirkan jalan keluar dan jalan penyelesaiannya.
Hingga disuatu hari, dgn izin Allah
wabah corona ini pun hilang. Dan kami dapat berjumpa dgn sanak saudara, teman2
dgn rasa sangat bahagia tanpa hadir bayang2 rasa takut yg selalu menghantui
saat wabah virus itu terjadi.
Percayalah, Nak. Setiap apa yg
Allah takdirkan pasti akan hikmah sedalam makna yg selalu membersamai. Ohiya
pada saat itu Ibu belum berjumpa dengan Ayahmu, nama Ayahmu masih menjadi
rahasia Allah :D
.
Lalu kira-kira hikmah apa yang dapat
kamu ambil dari cerita Ibu ini, Nak? :)
.
#ceritamasakarantina
Jakarta, 16 Agustus 2020

Komentar
Posting Komentar