Langsung ke konten utama

Kenapa Bisa ?

 

Mbah Tugino dan Mbah Surip 😊 

Jum'at pagi dikala itu ketika diri ini sedang bertugas jaga, pandanganku jatuh pada kedua orangtua yang sudah sepuh. Mbah Tugino dan Mbah Surip namanya. Sejak sampai di Puskesmas keduanya tak pernah sekalipun lepas genggaman tangannya. Mbah Tugino yang menuntun Mbah Surip, sebab qadarullah penglihatan Mbah Surip sudah mulai terganggu jadi tidak bisa melihat dengan jelas dan harus dibantu untuk jalannya. Ketika sempat pulang dan balik lagi ke puskesmas tempatku bertugas, Mbah Surip dan Mbah Tugino ini naik bajaj lalu ku bantu untuk memapah Mbah Surip ke tempat pemeriksaan, dan ternyata Mbah Tugino terus mendampingi disebelahku, mungkin ia ingin memastikan bahwa sang istri tercinta tetap dalam keadaan aman ketika bersamaku 😅

Ku mulai bertanya-tanya kenapa bisa Mbah ke Puskesmas naik bajaj hanya berdua dan tidak diantar anaknya? Lalu kedua nya kompak menjawab anaknya tidak bisa melihat karena kecelakaan dan anaknya yang sehat qadarullah positif covid-19. Maka maksud Mbah Surip dan Mbah Tugino ke puskemas adalah untuk melakukan swab kontak erat anaknya. Masya Allah, diri ini jadi teringat saat menjadi pasien positif covid-19 beberapa bulan lalu. Mungkin Ibu Bapak perasaannya campur aduk ketika ingin swab karna kontak erat dengan anaknya, yaitu saya. Semoga Allah jaga Ibu Bapak dan para orangtua lainnya dengan kesehatan paripurna.

Seketika hati ini terenyuh karena ingat Ibu Bapak dan langsunglah memasang foto Mbah Surip dan Mbah Tugino status di WA dengan emoticon 💕👫, seketika itu juga hp ku ramai karna banyak yg mengomentari status WA ku. Banyak yg mengirim emot sedih dan tanda cinta. Ya, kisah Mbah Surip dan Mbah Tugino ini hadir disaat yang tepat. Disaat diri ini sering bertanya, kenapa bisa?

----

Tentang sebuah tanya dalam perjalanan seringkali hadir dan seringkali Allah langsung jawab setiap tanyanya. Semisal, kenapa bisa ya Allah jodohkan mereka? Ketika melihat banyak pasangan yg hadir di depan mata. Seperti halnya Mbah Tugino dan Mbah Surip ini? Jawabnya ternyata memang ada di dalam ayat-Nya yang hampir disetiap undangan2 pernikahan ini dicantumkan. Semoga Allah rahmati keduanya.

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum : 21)💓

Dan di lanjut dengan ayat setelahnya

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui" (QS. Ar-Rum : 22)

Bisa jadi hikmah mengapa pernikahan disebutkan adalah salah satu tanda-tanda Kebesaran-Nya karna Allah lah yang menyatukan dua insan manusia yang berbeda latar belakang, berbeda sifat karakter, berbeda asal usul,  berbeda warna kulit, berbeda suku, berbeda bahasa, berbeda sudut pandang, berbeda bentuk fisik dan berbeda lainnya. Dan pernah ga kita berpikir kalo bukan Allah yang mempersatukan dan mempertemukan dengan jalan cerita menurut-Nya, lalu siapa yang dapat menyatukan jiwa2 dua insan manusia ini yang jwa kita pun ada dalam genggaman-Nya? 😊

Sungguh, Maha Kuasa dan Maha Besar Allah atas setiap penciptaan-Nya.

Kalau yang mengatur segalanya adalah manusia barangkali semua akan runyam tidak seindah apa yang Allah buat sesuai dengan jalan cerita-Nya. Karna yang dapat menghadirkan Sakinah, Mawaddah, dan Rahmat dalam sebuah pernikahan hanyalah Allah semata.

Kalau ini Ibu Bapak 😊

Begitulah perjalanan rasa atas setiap tanya, Allah hadirkan jawabnya sesuai dengan kehendak-Nya. Allah yang menghadirkan cinta dan kecenderungan pada dua insan manusia.

----

Entah tulisan ini nyambung atau tidak dari paragraph satu dengan lainnya, tapi intinya, jiwa kita ada dalam genggaman-Nya, dan Allah lah yang menghadirkan cinta pada dua insan manusia yang Allah baru pertemukan dalam sebuah babak pernikahan, maka jangan lupa untuk selalu menghaturkan doa agar selalu direkatkan ikatannya dalam balutan cinta kepada-Nya. Sebab kalau bukan bermuara kepada Allah maka cinta itu pasti akan padam hehehe 

 

Catatan : Tulisan ini hadir karna random setelah mengikuti beberapa kelas pra-Nikah hehehe 😂🙈

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepucuk Surat Cinta dari Ukhti ku

Bismillah ...  Assalamu’alaykum Ukhti Wida ... “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”  (QS. Al-Hujarat : 10) Iya, kita adalah saudara. Saudara yang diikatkan iman kepada Allah, ukhti ... “Persaudaraan adalah mukjizat, wadah yang saling berikatan dengan Allah persatukan hati-hati berserakan saling bersaudara, saling merendah lagi memahami, saling mencintai, dan saling berlembut hati” (Sayyid Quthb) Sungguh indah sekali ukhuwah itu  Sejak pertama aku bertemu kamu di acara salam hingga menjadi satu halaqoh, menjadi hal yang sangat luar biasa ... Sungguh, atas segala izin-Nya kita dapat mempertahankan ukhuwah ini ... Ukhti, jazakillah khair katsiran atas segala pemberianmu kepadaku, perhatian dan semuanya. Ukhti, afwan jiddan ya jika aku banyak salah. Semoga jilbab ini menemani hari-hari mu, untuk terus berjua...

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...
Kontemplasi awal tahun 2023 ku ada beberapa yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran dan benak hati, tentang : Menyamakan frekuensi itu perlu, agar tak keliru dalam perjalanan panjang. Sebab nantinya ia yang kau pilih kan menjadi sahabat dalam perjalanan ibadah terpanjang dalam kehidupanmu yang ending dan muaranya adalah reuni di Jannah-Nya. Tentang Berkomitmen pada Yang Abadi, sebab sumber kekuatan dan kebahagiaan berasal dari-Nya. Karna seringkali diri ini masih berharap pada manusia yg sudah diketahui tempatnya khilaf tapi masih saja menaruh harap yang akhirnya berujung kecewa. Tentang takdir-Nya yang tak memerlukan alasan sebab, karna jika Allah telah berkehendak sudah pasti terjadi.  Lalu, apakah engkau masih ragu wahai diri tentang segalanya yang telah diatur sedemikian rapi dan indah oleh-Nya? Bukankah mengimani Takdir adalah salah satu dari Rukun Iman kita? Lantas apalagi yang engkau ragukan dalam kehidupan ini? Padahal setiap daun yang gugurpun jatuh atas seizin-Nya, buk...