Langsung ke konten utama

Pantai dan Senja

“Tau ga, kenapa senja itu menyenangkan? Karna kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia hitam gelap berduka. Tapi, langit selalu menerima senja apa adanya” (Kutipan film episode full “Sore, istri dari masa depan)



Pantai belakang rumah saat di tanah rantau 

Menikmati suguhan langit senja entah mengapa selalu menjadi candu yang kemudian tumbuh menjadi rindu. Seperti tak membutuhkan alasan mengapa selalu suka senja dan pantai yang menjadi tempat mengejarnya. Seperti tak bisa terpisahkan. Senja dan pantai. Menjadi pelipur kegundahan, keresahan yang kadang menggebu tanpa sebab adanya.

Ingat betul ketika kkn saat akhir semester perkuliahanku 5 tahun lalu di daerah Kabupaten Batang saat aku dan kelompokku pergi berwisata ke sebuah pantai yang berada Kabupaten sebelah, diajak oleh induk semang kami saat itu dan nampaknya saat itu menjadi awal diriku menyukai pantai dan suguhan langit ketika senja itu tiba. Saat diri ini sedang rindu-rindunya pada keluarga di rumah, saat itu pula aku menikmati pantai dan senja hingga rindu itupun seperti terbawa oleh ombak-ombak yang menghampiri.

Lalu ketika diriku mendapat tugas di daerah kepulauan diujung perbatasan negeri yang dikelilingi oleh lautan daerah Kabupaten Maluku Barat Daya, semakin menjadi-jadi menyukai pantai dan senjanya. Bayangkan saja, rumah tinggalku saat di tempat tugas hanya 5 menit untuk sampai di pantai belakang rumah. Saat keadaan kalut, saat keadaan ingin marah, kesal, sedih atau saat rindu pada mereka yang terkasih keluarga, teman atau sanak saudara diri ini hampir selalu melarikan diri ke pantai, entah hanya untuk sekadar duduk diam, atau bergumam pada angin dan suara desiran ombak dipantai, atau ikut bermain dengan anak-anak yang sedang bermain dipantai, perasaan yang bergejolak itu entah tiba2 hilang dan kemudian tenang.

Mungkin bagi mereka yang menyukai gunung akan merasakan perasaan yang berbeda ketika jumpa dengan gunung entah saat naik gunung atau hanya sekadar melihat dari kejauhan. Begitupun aku yang menjadi penikmat pantai dan senja, kadang tanpa alasanpun menjadi jawabnya ketika ditanya kenapa? 😊

Yang jelas, hamparan langit yang indah dan luasnya lautan atau tinggi dan gagahnya gunung menjulang bisa kita jadikan sarana untuk kita bertafakur mengingat akan Ke- Maha Kuasaan dan Ke-Maha Esaan Allah. Menjadikan iman kita bertambah bukan malah tambah larut terbawa gelombang perasaan yang tiada berkesudahan adanya 😊



"Setiap kali senja datang ia selalu menawarkan keindahan setelah menunggu dari fajar hingga petang. Senja pun selalu menawarkan harapan-harapan baru setelah kesudahan tenggelam, ia akan terbit bersinar"

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Ali - Imran : 190 - 191)


#Penikmat pantai dan senja, Wida

Jakarta, 27 Desember 2020

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontemplasi awal tahun 2023 ku ada beberapa yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran dan benak hati, tentang : Menyamakan frekuensi itu perlu, agar tak keliru dalam perjalanan panjang. Sebab nantinya ia yang kau pilih kan menjadi sahabat dalam perjalanan ibadah terpanjang dalam kehidupanmu yang ending dan muaranya adalah reuni di Jannah-Nya. Tentang Berkomitmen pada Yang Abadi, sebab sumber kekuatan dan kebahagiaan berasal dari-Nya. Karna seringkali diri ini masih berharap pada manusia yg sudah diketahui tempatnya khilaf tapi masih saja menaruh harap yang akhirnya berujung kecewa. Tentang takdir-Nya yang tak memerlukan alasan sebab, karna jika Allah telah berkehendak sudah pasti terjadi.  Lalu, apakah engkau masih ragu wahai diri tentang segalanya yang telah diatur sedemikian rapi dan indah oleh-Nya? Bukankah mengimani Takdir adalah salah satu dari Rukun Iman kita? Lantas apalagi yang engkau ragukan dalam kehidupan ini? Padahal setiap daun yang gugurpun jatuh atas seizin-Nya, buk...

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...

Ruang Tunggu

  Pernah ga bertanya kenapa kok teman2 yang lain udah sampai pada pencapaiannya, sedangkan kita belum? Pas banget kemarin abis dengerin IG Live nya dr. Lula Kamal dengan Ka Dewina (salah satu wanita yg ku kagumi). Kemarin pas lagi jatuh2nya ngerasa kayak kok saya beda sama teman2 yg lain, kok pencapaian saya gitu2 aja, kok kayaknya lelah banget ya terus Allah kayak ngasih jawaban lewat Ka Dewina sampe2 netesin airmata setiap denger apa yang Ka Dewina sampaikan. "Belajar tentang sabar, kalau memang belum rezekinya mungkin bukan sekarang tapi nanti diwaktu yang terbaik menurut-Nya dan ternyata ada banyak hikmah lagi dimasa2 ruang tunggu kita. Ini bukan tentang berapa lama di masa tunggu, tapi apa yg sudah kita lakukan di ruang tunggu kita. Sejatinya kita ini memang sedang berada di ruang tunggu. Setelah sekolah, nunggu kuliah, setelah kuliah nunggu kerja, setelah kerja nunggu menikah, setelah menikah nunggu punya anak, dan nunggu2 lainnya hingga akhirnya kita sedang menunggu kematia...