Kemarin, tanggal 25 Desember selalu menjadi hari-hari munculnya perdebatan tentang bagaimana sikap kita pada non-muslim. Teringat ketika saya berada di tanah rantau, dimana di sana penduduk muslimnya adalah minoritas, yaitu sekitar 1% saja. Agak kaget, karna harus beradaptasi sedemikian kuat untuk bisa melewati hari demi hari hingga selesai masa tugas.
Tim
saya pun terdiri dari lima orang dan salah satunya adalah non-muslim. Kami hidup
dalam satu atap selama kurang lebih 2 tahun. Adaptasinya dimulai dari teman
satu tim ini tentang bagaimana bertoleransi. Walau sebenarnya, sejak SMA saya
sudah memiliki teman yang cukup akrab dan berhubungan baik dengan non-muslim. Tapi,
karna dalam tugas ini saya berada hampir 24 jam bersama jadi lebih banyak
belajarnya untuk bertoleransi.
Kami
memberitahukan tentang peraturan-peraturan dalam ajaran agama islam mengenai
makanan-makanan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan, lalu tentang kami
tidak boleh mengucapkan selamat setiap hari perayaan yang dirayakan oleh
non-muslim, dan banyak hal lainnya. Dan teman saya pun mengetahuinya sebab
telah kami beritahukan sebelumnya. Tentang alat makan atau alat masak yang
harus terpisah jika telah digunakan untuk makanan-makanan yang terlarang oleh
agama islam. Dan teman saya pun paham akan hal itu.
Ahiya,
saya teringat pula ketika lebaran hari raya idul fitri tahun 2017 ketika itu
saya tidak pulang ke Jakarta dikarenakan izin orangtua yang melarang saya untuk
pulang ke Jakarta, nanggung katanya karna beberapa bulan lagi sudah selesai
tugasnya 😄
Saya dan teman-teman sudah merayakan dua kali lebaran di tempat tugas. Lebaran pertama saat idul adha tahun 2016 karena kami tidak pulang, dan lebaran kedua adalah saat idul fitri tahun 2017. Kami merayakan idul adha bersama dengan saudara-saudara yang sama-sama merantau di tempat kami berada. Ingat betul saat kami melakukan sholat ‘ied di lapangan terbuka kami diawasi dan dijaga oleh Bapak Polisi yang sudah kami kenal baik 😊
Tidak
pernah terbayangkan sebelumnya saya merayakan lebaran di tanah rantau jauh dari
keluarga dan sanak saudara, tapi qadarullah Allah hadirkan saudara-saudara
seperjuangan sebagai pelipur lara dikala itu. Tak disangka saat kami open house
ternyata banyak sekali masyarakat di tempat kami bertugas berdatangan tak
terkecuali teman-teman tempat kami bertugas yaitu pegawai puskesmas yang ikut
meramaikan rumah kami. Dan senangnya Alhamdulillah tak terbilang
masakan-masakan yang saya masak habis tak bersisa, kue-kue yang saya buat pun
juga laku termakan, Masya Allah 😍
| saat kedatangan adik-adik dari sekitar rumah 😊 |
Tentang
toleransi, saat tanggal 25 Desember kami berunding untuk mengutus teman kami
yang non-muslim yang menghadiri undangan di tempat-tempat ibadah mereka. Dan mereka
pun memahami, mengerti mengapa kami yang muslim tidak ikut hadir dalam undangan
mereka.
| Beberapa teman-teman puskesmas tempat saya bertugas 😊 |
| Saudara-saudara muslim di tanah rantau 💙 |
| saya yang sedang tidak sholat bertugas menjaga jama'ah paling kecil 😅 |
Begitulah
toleransi, mengajarkan kita tentang “bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Jika dalam
agama mereka tidak melarang untuk ikut merayakan hari raya lebaran ummat muslim
ya dipersilakan, tapi kita sebagai muslim juga harus bisa ngerem dan paham
tentang aturan syariat yang telah kita ikrarkan menjadi seorang muslim yang
kaffah, seutuhnya. Jangan sampai hanya karna tidak enak atau khawatir dijauhi
oleh teman kita yang non-muslim tersebab tidak mengucapkan selamat pada hari
raya mereka kita malah ikut-ikutan untuk mengucapkan, sambil berdalih “ah kan Cuma
menghargai aja, ah kan Cuma ucapan aja”. Lalu, bukankah syahadat “Tidak ada
Tuhan selain Allah” yang telah kita ikrarkan itu juga bagian dari ucapan yang
kita lantunkan?
Mengutip
nasihat dari alm. KH. Ahmad Hasyim Muzadi tentang Toleransi Jangan Menodai “Toleransi
bukan berarti pemeluk Kristen ikut sholat jum’at di masjid atau ummat islam
ikut ibadah di gereja. Toleransi tak perlu sampai pakai atribut dan ikut
rayakan Natal dan ikut-ikutan mengucapkan selamat natal. Masing-masing ummat
beragama silahkan beribadah sesuai keyakinan dan pada tempat ibadahnya
masing-masing. Karena toleransi bukan mencampur adukkan keyakinan. Kalau hal
itu terjadi maka yang sebenarnya terjadi penodaan agama bukan toleransi agama.”
Lagipula,
kita masih tetap bisa berbagi kebahagiaan atau kebersamaan dengan teman-teman
kita yang non-muslim dihal-hal lain kan ? sebab perlakuan atau perbuatan kita
kepada non-muslim pun tetap dianjurkan oleh agama islam untuk tetap berbuat
baik, bukan? Selagi bukan menyangkut hal-hal akidah, ibadah. Dan bahkan bagian
dari akhlak kita sebagai seorang muslim untuk menunjukkan kalau islam adalah
agama yang rahmatan lil ‘alamin :)
Semoga,
Allah kokohkan iman islam dalam diri kita hingga kita berjumpa dengan Allah,
Rabb Yang Maha Agung, Maha Esa 😊
Wallahu’alam
*Wida,
si fakir ilmu :')

Komentar
Posting Komentar