Langsung ke konten utama

Postingan

Kembali Meluruskan Niat

Tibalah pada suatu titik dimana aku termenung sendiri dalam kondisi yang aku sendiri tidak mengerti maksudnya apa yang diinginkan diri? Tetapi mencoba menerka apa yang dirasa oleh jiwa, apa yang sebenarnya terjadi dalam langkah ini sehingga memang harus berhenti sejenak untuk kembali memperbaiki kualitas niat dalam diri ini. Dan benarlah semakin tercenung dengan kalimat penggugah jiwa yang sangat merasuk hingga jauh ke dalam makna. “Ini bukan tentang bagaimana pandangan makhluk Allah terhadap diri kita, tapi pandangan Allah, Dzat yang sangat kita harapkan cinta dan ridha-Nya atas kita. Karena sangat sempit dan sebentarnya dunia, janganlah kita mengorbankan akhirat yang telah nyata luas dan abadinya. Dan sudahkah selama ini kerja-kerja kita hanya untuk-Nya? sudahkah selama ini hidupmu, nafasmu, dan seluruh pengorbananmu meraih segalanya hanya untuk-Nya? sudahkah kamu memastikan dalam setiap langkahmu itu diawali untuk Allah, disaat untuk Allah dan diakhirpun senantiasa untuk Allah?”...

Apakah Sampai Padamu Berita Tentang Mahanazi?

gambar diambil dari sini Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina? Apakah sampai padamu berita tentang  rumah-rumah yang dihancurkan tanah-tanah meratap berpindah tuan, bahkan manusia yg dibuldozer? Apakah sampai padamu berita tentang air mata yang tumpah dan menjelma minuman seharihari tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari? Apakah sampai padamu berita tentang kanak-kanak yang tak lagi berbapak tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara? Para balita yang menggenggam batu dengan dua tangan mungil mereka menghadang tentara zionis Israel lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha di halamannya menggenang darah dan tubuhtubuh yang terbongkar Peluru yang berhamburan di udara menyanyikan lagu kematian menyayat nadi kekejaman yang melebihi fiksi dan semua film yang pernah kau tonton di bioskop ...

Kata Terurai Jadi Laku

Ukuran interigasi cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati, terkembang dalam kata, terurai dalam laku,   kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata. Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal. Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan. (Anis Matta dalam serial cintanya “Kata Terurai Jadi Laku”)

Ukhuwah dalam Doa

Ada rasa yang bergejolak di dalam dada Ada rasa yang tak bisa diungkap oleh kata-kata Ada kerinduan yang tak terperi untuk disampaikan segera Ada hati yang menyimpan nama di dalamnya Ada jiwa yang menggebu kala menyampaikan rindu lewat doa Ada wajah yang berseri ketika mengingatnya Ada ingatan yang kuat kala kenangan itu berkunjung dipikirannya Ada sujud panjang dalam sholat tuk sampaikan doa terbaiknya Dan ada pertanyaan yang selalu membayangi dalam pikiran “apakah ini yang disebut Ukhuwah?” Untuk kalian yang disana, saudara seperjuangan. Mungkin inilah yang disebut dengan ukhuwah. Ada rindu yang disampaikan lewat doa, memastikan bahwa saudara tercintanya tetap dalam perlindungan-Nya. Untuk kalian yang disana, saudara seperjuangan. Mungkin inilah yang disebut dengan Ukhuwah. Dalam sujud terindahnya ia tak pernah lupa tuk sampaikan pada Robb-nya bahwa ia menitipkan saudaranya kepada-Nya. Untuk kalian yang disana, saudara seperjuangan. Mungkin inila...