Langsung ke konten utama

Untukmu Saudaraku





Beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke blog seorang ukhti hebat bisa dikatakan sebagai inspirator diri saya. Saya coba cari tulisan yang menarik didalam blognya, dan saya melihat sebuah judul ‘Untukmu Saudaraku’. Karna tertarik langsung saya baca dan ternyata saya tidak dapat menahan airmata saat membacanya ...
——————————————————————————————————————
——————————-
Masa itu adalah masa dimana kita banyak belajar, belajar arti kehidupan, belajar indahnya menjalin ukhuwah, belajar berkorban untuk orang lain, belajar membina, belajar ta’at, belajar mengerti kondisi, belajar bersabar, belajar, dan terus belajar…

Tempat itu adalah tempat kita berbuat, mendengarkan taujih, memahami penjelasan, menimba ilmu, mengerti bentuk lain dari keyakinan, dan tak henti-hentinya mengevaluasi diri…

Saudara kita itu adalah bagian dari inspirasi, darinya kita tahu diri kita, darinya kita tahu makna persahabatan, darinya kita tahu bahwa dunia ini hanya penuh tipu daya, darinya kita paham bahwa setiap diri saling mengisi dengan diri yang lain, tidak terpecah, dan tidak hidup dalam egoisme…

Guru kita itu adalah bentuk pembuktian dari strategi Allah mengajarkan banyak hal kepada manusia, kesederhanaannya, kesabarannya, kepeduliannya, keikhlasannya, pengorbanannya, dirinya tak jarang disulitkan dengan keluh kesah kita, masalah, penjelasan, pengertian, tanpa pernah kita memikirkan kesulitan yang menimpa dirinya, bahkan untuk sekedar menanyakan kabarnya hari ini….

Kenangan indahnya jangan pernah pudar, terlalu banyak kebaikan-kebaikan yang didapatkan, terlalu besar pengorbanan yang harus keluar, terlalu banyak waktu terbuang yang dilewatkan bersama, terlalu besar keletihan yang rela dilupakan…

terima kasih tuk kehadirannya…
terima kasih tuk keindahannya…
terima kasih tuk semua yang telah ada…

jika suatu saat harus tercerai, ingatkan diri ini tuk tak pernah melupakannya, jika suatu saat kita temukan masa harus terpisah, terus do’akan agar cinta ini melekat bersama keimanan yang terus kuat, jika kau tak kuat menanggungnya, maka izinkan diri ini membantumu, bersama semua kenangan yang pernah kita buat bersama…

Untukmu saudaraku…

Setelah membaca tulisan ini, saya kembali teringat masa-masa bersama mereka. Mereka yang rela membagi waktunya untuk rapat, pulang hingga hampir larut malam, dan masih banyak lagi kenangan demi kenangan yang telah terukir dalam hati saya ini. Tawa, marah, iseng saat berjumpa sepertinya hal yang sulit untuk begitu saja dilupakan

yap, bahagia itu sederhana. bisa bertemu dengan saudara-saudara seiman yang hebat seperti mereka itu adalah suatu nikmat dari Allah yang tak tergantikan bagi saya.
Jazakumullah Khairaan Katsiran untuk segalanya kawan, karena telah bersedia berjuang bersama dalam barisan ini dan berbagi kue-kue kebaikan :)

Sekarang, kita sudah berpisah untuk melanjutkan cita kita masing-masing. Tapi itu bukan masalah bagi kita untuk tetap terus tergur sapa dalam setiap doa terbaik kita. Karena  sesungguhnya jika hati kita telah diikat oleh iman pastilah terlontar doa terbaik untuk saudaranya disetiap akhir sholat fardhu dan akhir malamnya tanpa diminta sekalipun. Teruslah berjuang, dimana pun dan kapan pun. Teruslah melangkah, teruslah berjuang untuk ummat ini. Tapi, satu yang perlu kita ingat “jarak tidaklah berarti untuk ukhuwah yang telah terajut  ini kawan, karena selama kita tetap memandang kepada satu tujuan (Allah), itu sudah cukup untuk mempersatukan kita.”

Yaa Robb, Engkaulah sebaik-baik penjaga jagalah teman-teman seperjuangan ku. lapangkanlah dadanya dengan karunia iman pada-Mu, mudahkanlah setiap langkahnya menuju kebaikan yang bernilai ibadah kepada-Mu Duhai Robb ku. Dan Semoga Engkau rela untuk pertemukan kami ditaman surga-Mu kelak, Aamiin ^^

Uhibbukum Fillah :)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontemplasi awal tahun 2023 ku ada beberapa yang selalu terngiang-ngiang dalam pikiran dan benak hati, tentang : Menyamakan frekuensi itu perlu, agar tak keliru dalam perjalanan panjang. Sebab nantinya ia yang kau pilih kan menjadi sahabat dalam perjalanan ibadah terpanjang dalam kehidupanmu yang ending dan muaranya adalah reuni di Jannah-Nya. Tentang Berkomitmen pada Yang Abadi, sebab sumber kekuatan dan kebahagiaan berasal dari-Nya. Karna seringkali diri ini masih berharap pada manusia yg sudah diketahui tempatnya khilaf tapi masih saja menaruh harap yang akhirnya berujung kecewa. Tentang takdir-Nya yang tak memerlukan alasan sebab, karna jika Allah telah berkehendak sudah pasti terjadi.  Lalu, apakah engkau masih ragu wahai diri tentang segalanya yang telah diatur sedemikian rapi dan indah oleh-Nya? Bukankah mengimani Takdir adalah salah satu dari Rukun Iman kita? Lantas apalagi yang engkau ragukan dalam kehidupan ini? Padahal setiap daun yang gugurpun jatuh atas seizin-Nya, buk...

Kontemplasi tentang Takdir-Nya

Tentang Takdir-Nya yang selalu indah. Seringkali kita mengeja Allah, menuntut apa yang Ia hadirkan agar sesuai dengan keinginan kita. Tapi Bukankah seharusnya Asmaul Husna Ar-Rahman dan Ar-Rahim sudah cukup membuat kita yakin pada setiap ketetapan-Nya? Karena yang memberikan itu semua adalah Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sungguh, Allah terlalu baik untuk kita yang selalu mencurigai segala ketetapan takdir-Nya Kerjakan bagianmu, biar Allah kerjakan bagian-Nya. Tugasmu hanya sampai memaksimalkan ikhtiar lalu tawakkal dgn penuh kepasrahan. Tawakkalmu harus lebih panjang dari ikhtiarmu, bukan? Lalu jika masih terselip luka ketika menerima hasilnya, mungkin saja niatmu kurang lurus saat memulainya. Maka hamparkanlah sajadah, panjangkan lah sujud2mu dengan indah. Tumpahkan segala rasa yang sesak mengganggu dada. Bukankan engkau telah mengikrarkan diri  sesungguhnya Sholatku, ibadahku hanya untuk Allah saja? Termasuk segala apapun yang telah engkau kerja? Maka cukuplah bagi...

Ruang Tunggu

  Pernah ga bertanya kenapa kok teman2 yang lain udah sampai pada pencapaiannya, sedangkan kita belum? Pas banget kemarin abis dengerin IG Live nya dr. Lula Kamal dengan Ka Dewina (salah satu wanita yg ku kagumi). Kemarin pas lagi jatuh2nya ngerasa kayak kok saya beda sama teman2 yg lain, kok pencapaian saya gitu2 aja, kok kayaknya lelah banget ya terus Allah kayak ngasih jawaban lewat Ka Dewina sampe2 netesin airmata setiap denger apa yang Ka Dewina sampaikan. "Belajar tentang sabar, kalau memang belum rezekinya mungkin bukan sekarang tapi nanti diwaktu yang terbaik menurut-Nya dan ternyata ada banyak hikmah lagi dimasa2 ruang tunggu kita. Ini bukan tentang berapa lama di masa tunggu, tapi apa yg sudah kita lakukan di ruang tunggu kita. Sejatinya kita ini memang sedang berada di ruang tunggu. Setelah sekolah, nunggu kuliah, setelah kuliah nunggu kerja, setelah kerja nunggu menikah, setelah menikah nunggu punya anak, dan nunggu2 lainnya hingga akhirnya kita sedang menunggu kematia...