Ketika aku tidak siap untuk kecewa dengan
tetiba Allah menguatkan lewat surat cinta-Nya. Allah tahu yang terbaik untuk
Hamba-Nya
Ketika aku tidak siap untuk kecewa dengan
tetiba jiwa ini meronta, merasa bersalah sebab ia telah kalah dengan imannya
Ketika aku tidak siap untuk kecewa dengan
tetiba teringat tentang apa-apa yang selalu dihaturkan lewat doa memohon agar
dibuat ridha atas setiap apapun kehendak-Nya
Ketika dan ketika dada serasa sesak selalu
berkeinginan untuk lari kepantai hanya untuk sekedar memandang luasnya hamparan
laut biru, mengeluarkan segala isi hati menyampaikan lewat air yang tenang tapi
entah sejak kapan diri ini selalu merindu pantai ketika terpaan ujian datang
yang menyesak dada.
Dan nyatanya ketika raga tak sampai pada
pantai hamparan sajadah adalah satu-satunya tempat ternyaman untuk bersimpuh
mengeluarkan segala apa-apa yang dirasa, bercerita pada Sang Maha Pencipta
tanpa ada jeda tentang apa-apa yang disemogakan namun bersaingan dengan Takdir
yang telah ditetapkan oleh-Nya. Menyampaikan agar tak ada lagi sesak dalam
dada, agar semuanya terasa ringan adanya. Ringan menerima setiap yang
dikehendaki-Nya. Ringan dalam menjalani hari-hari yang akan berat setelahnya.
---
Kita seringkali menyangka apa yang menjadi
keinginan kita adalah yang terbaik bagi kita, padahal kita adalah seorang Hamba
tidak boleh lupa bahwa ada Allah Yang Maha Mengetahui Segala sesuatunya. Hal
yang paling berat dalam menjalani hidup adalah bersaing dengan takdir. Padahal
kita tahu apa-apa yang telah terjadi adalah tetap atas kehendak-Nya. Bahkan
daun yang gugurpun jatuh ke bumi atas izin-Nya.
“Takaran tentang apa yang terbaik memang
tidak pernah ada dalam ukuran kita, melainkan ukuran-Nya” (Kurniawan Gunadi)
Kadang setiap tanya tidak melulu harus
terjawab langsung, kan? Bisa saja tanyamu hari ini baru kamu dapati jawabnya
esok hari, lusa, atau bahkan saat tapak kakimu telah menginjak Taman Syurga-Nya
.
Begitu pun tentang Takdir-Nya. Kita tidak
pernah tahu sampai batas mana kita harus berlari mengerjarnya. Kita hanya perlu
ikhtiar lalu bertawakal, Mastatho'tum. Begitu bukan?
Sampai disini tersadar seakan dibisikkan
"Teruslah berlari sampai Allah sendiri yang hentikan.
Tentang segala takdir-Nya yang selalu
indah, kita hanya perlu terus belajar prasangka tanpa ada curiga pada-Nya.
Tentang segala takdir-Nya yang selalu baik untuk kita, sudah sedalam mana
tancapan iman dalam diri kita percaya akan Qadha dan Qadhar-Nya? Masihkah ada
percikan goyah yg kadang membuat roboh pelan2 tanpa sadar karna lalai?
Dan kita sering kali lupa lalu terjebak
bahwa logika kita adalah logika manusia yang hanya terbatas dengan ruang dan
waktu sedangkan kita berada dalam Kuasa-Nya yang tidak pernah terbatas oleh
ruang dan waktu.
Dia titipkan rahasia-Nya diwaktu
terbaik-Nya. Pada perjumpaan yang akan menjadi jawaban atas doa dan harapan
hamba-Nya. Satu hal yang pasti bahwa Takdir-Nya takkan pernah salah. Hanya
mungkin kita saja yang kurang lapang menerimanya. Mari menikmati karunia-Nya
dengan sebaik-baik sabar dan sebaik-baik syukur pada-Nya.
Jakarta, 06 Desember 2020
#dalam sendunya rintikan hujan

Komentar
Posting Komentar