Langsung ke konten utama

Bila Waktu Telah Berakhir


Assalamu’alaikum Wr Wb

Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un, telah berpulang ke Rahmatullah Fulan bin Fulan.

Dag, dig, dug... Detak jantung ku tak beraturan saat mendengar pengumuman berita duka ini. Entah mengapa saat speker masjid bersuara pengumuman seperti tadi aku langsung berhenti beraktivitas dan diam sejenak untuk mendengar berita duka yang tak di inginkan itu.

Sudah beberapa hari ini aku di ingatkan dengan kawan yang akan menjemput ku yaitu “KEMATIAN”. Seram memang, tapi begitu adanya. Kematian itu memang tak kenal saat usia kita tua atau muda, sehat atau sakit, kaya atau miskin. Tidak, karena Kematian adalah kawan sejatinya diri ini yang akan menjemput kita disaat jadwal kontrak kita di dunia ini sudah habis waktunya dan harus membayarnya dengan menghadap Dzat Sang Maha Pemilik Alam Semesta ini, Ialah Allah. ya, membayarnya dengan pertanggung jawaban kita selama hidup di dunia yang fana’ nan hina ini.

Ingat KEMATIAN pastilah ingat dengan Bekal Kematian yang akan kita bawa dan dipertanggungjawabkan nantinya. Mengingat-ingat pada amal-amal yang sudah ku perbuat selama aku hidup di dunia ini sejak dilahirkan dari rahim Ibu ku hingga saat ini ku mulai beranjak dewasa sangatlah belum cukup untuk menjadi bekal untuk diakhirat nanti. Amal kebaikan atau malah amal keburukanlah yang telah banyak ku perbuat? Ya, karna AMAL adalah sahabat sejati kita yang akan setia kepada kita hingga liang lahat, yang akan menentukan kita kelak, Jannah-Nya atau Jahannam-Nya? Jika Amal kebaikan yang kita perbuat lebih banyak pastilah Allah akan memasukkan kita kedalam Jannah-Nya melalui Rahmat-Nya. Dan itulah yang ku harapkan, bahwa setiap aktivitas yang ku jalani terdapat Ridho dari-Nya dan kebaikan yang bernilai ibadah pada-Nya.

Lantas bekal apa yang harus kita bawa kelak jika kematian telah datang dan kita dimintai pertanggung jawaban? Berpikir sejenak,.. Amal Sholeh lah jawabannya. Dengan amal sholeh lah kita berteman hingga liang lahat nanti, amal sholeh lah yang akan menemani kita menghadap Sang Kholiq. Berbuat kebaikan, ber ammar ma’ruf nahi munkar, dan senantiasa Istiqomah dijalan-Nya itulah bekal yang akan kita bawa kelak saat kematian datang menyapa. Kalo kata teman saya istiqomah tak hanya sekadar konstan. Istiqomah itu adalah konstan, namun juga terjadi peningkatan. Jika telah konsisten solat di masjid, maka harus ada peningkatan kualitas solat itu sendiri; tak pernah masbuk, sunnah-sunnah dalam solat diperbanyak, dan kualitas-kualitas yg lain dalam solat. Jika telah konsisten dengan jilbab, maka harus ada peningkatan kualitas diri; akhlak makin tertata, jilbab semakin syar'i dan kualitas-kualitas lain. Itulah istiqomah.
http://www.mhilmana.blogspot.com/2012/11/kapan-waktu-itu-akan-tiba.html

Yap, Istiqomah adalah kita konsisten terhadap sesuatu yang kita jalani, dan harus naik secara perlahan untuk mencapai tingkat mendekati titik kesempurnaan. Istiqomah itu sendiri tidak mengharapkan peningkatan kualitas diri dengan melonjak tajam secara cepat, tapi Istiqomah berharap pada kita agar konsisten dan naik dengan pasti mendekati titik kesempurnaan. Istiqomah itu tidak hanya sekedar tetap tanpa mengalami penurunan kualitas, tapi juga harus ada perbaikan yang terus menambah dalam segala hal kebaikannya, keimanannya tentunya.

Ingat selalu dengan KEMATIAN kawan, karna dunia hanyalah sementara, dan hanya penuh dengan kesenangan serta sendau gurau. Seharusnya dunia adalah ladang kita mencari dan mengumpulkan bekal kebaikan saat diakhirat kelak. Apa yang kita tanam didunia itulah yang akan kita petik diakhirat kelak. Sebaik-baik guru adalah mengingat kematian.

Bagaimana kau merasa bangga
Akan dunia yg sementara
Bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
Meninggalkan dirimu


Bagaimanakah bila saatnya
Waktu terhenti tak kau sadari
Masikah ada jalan bagimu untuk kembali
Mengulangkan masa lalu


Dunia dipenuhi dengan hiasan
Semua dan segala yg ada akan
Kembali padaNya


Bila waktu tlah memenggil
Teman sejati hanyalah amal
Bila waktu telah terhenti
Teman sejati tingallah sepi


#Opick-Bila Waktu telah berakhir

Semoga manfaat, dan tetap saling mengingatkan ya kawan dalam berbuat kebaikan untuk meraih Ridho-Nya. Keep Istiqomah :)

Wallahu’alam

Komentar

  1. yah, link postingannya udah diganti, bukan yg itu lagi Wid. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hoo iya, waktu itu copasnya judul yang masih lama hil. tapi sekarang udah diganti kok. tenang hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

TOLERANSI

Kemarin, tanggal 25 Desember selalu menjadi hari-hari munculnya perdebatan tentang bagaimana sikap kita pada non-muslim. Teringat ketika saya berada di tanah rantau, dimana di sana penduduk muslimnya adalah minoritas, yaitu sekitar 1% saja. Agak kaget, karna harus beradaptasi sedemikian kuat untuk bisa melewati hari demi hari hingga selesai masa tugas. Tim saya pun terdiri dari lima orang dan salah satunya adalah non-muslim. Kami hidup dalam satu atap selama kurang lebih 2 tahun. Adaptasinya dimulai dari teman satu tim ini tentang bagaimana bertoleransi. Walau sebenarnya, sejak SMA saya sudah memiliki teman yang cukup akrab dan berhubungan baik dengan non-muslim. Tapi, karna dalam tugas ini saya berada hampir 24 jam bersama jadi lebih banyak belajarnya untuk bertoleransi. Kami memberitahukan tentang peraturan-peraturan dalam ajaran agama islam mengenai makanan-makanan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan, lalu tentang kami tidak boleh mengucapkan selamat setiap hari perayaan ...

Belajar dari Kisah Para Terdahulu

gambar diambil dari sini “Perjuangan kita saat ini, belumlah seberapa dibanding dengan perjuangan orang-orang terdahulu dalam jalan panjang ini. Berjuang itu memang pahit, karna Surga-Nya itu Manis, maka bertahanlah ! ” Kalimat di atas bisa saya katakan sebagai hentakan untuk saya ketika letih menyapa dalam mengarungi kehidupan ini. ya, saya selalu mencoba menyakinkan diri, mencoba melawan diri ini dengan kalimat diatas. Seakan ditampar dan kembali bangkit dikala jatuh ataupun lelah untuk melanjutkan kehidupan yang hanya sementara ini. Merasa sering kali lupa bahwa ia selalu sendiri, padahal Allah selalu menemaninya dalam setiap langkahnya, bahkan para malaikat-Nya pun turut serta menemaninya. Kita sering kali lupa akan perjuangan orang-orang terdahulu bahkan perjuangan Rasulullah SAW dalam dakwahnya. Merasa bahwa masalah yang ada dihadapan kita saat ini sangat berat, padahal masalah, tantangan dan dakwah mereka para terdahulu? Ya, tentu jauh lebih berat dari kita ...

Termasuk yang Manakah Kita?

Siapakah orang yang sibuk?   Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekaan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s Siapakah orang yang manis senyumannya? Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang-orang yang ditimpa musibah lalu dia berkata “Innalillahi wainna ilaihi rajiuun.” Lalu sambil berkata, “ Ya Rabb, Aku ridha dengan ketentuanMu ini”, sambil mengukir senyuman Siapakah orang yang kaya? Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini Siapakah orang yang miskin? Orang yang miskin adalah orang yang tidak puas dengan nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.   Siapakah orang yang rugi? Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melalukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Siapakah orang yang paling cantik Orang yang paling cant...